Suara Republik | Jakarta — Dhammavihari Buddhist Studies menggelar perayaan Sanghadana dalam rangka Masa Kathina 2570 Tahun Buddhis (TB) atau 2026. Kegiatan ini menjadi momentum bagi umat Buddha untuk memperkuat praktik berdana, mendukung kehidupan para anggota Sangha, sekaligus melestarikan ajaran Buddha atau Dhamma.

Ketua Panitia Perayaan Kathina 2570 TB sekaligus Wakil Ketua Pengurus Vihara, Yohendy, mengatakan perayaan tahun ini mengangkat tema ā€œBukan karena berlian tangan menjadi indahā€. Tema tersebut mengandung pesan bahwa keindahan dan kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh hal-hal material, melainkan oleh kebajikan dan perbuatan baik yang dilakukan.

Menurut Yohendy, Sanghadana merupakan bentuk persembahan umat kepada Sangha yang dilandasi ketulusan dan keyakinan terhadap hukum karma serta buah dari perbuatan baik.

“Umat datang berbondong-bondong untuk berdana kepada Sangha Bhikkhu. Dana tersebut diserahkan dengan penuh ketulusan dan keyakinan terhadap perbuatan baik, karma, serta buah karma.

Kami berharap praktik kebajikan ini membawa manfaat besar bagi banyak makhluk,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dukungan umat melalui Sanghadana tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan para anggota Sangha, tetapi juga menunjang keberlangsungan penyebaran Dhamma.

Dengan demikian, para anggota Sangha dapat terus menjalankan kehidupan spiritual dan menyebarkan ajaran Buddha kepada masyarakat luas.

Rangkaian perayaan Kathina tahun ini juga diisi dengan peluncuran tiga buku karya dan terjemahan dari Sangha. Buku-buku tersebut diharapkan dapat memperkaya literatur Buddhis, mendukung keberlangsungan budaya dan sasana, serta menjadi bahan pembelajaran bagi umat Buddha, khususnya di Indonesia.

Yohendy berharap kehadiran buku-buku tersebut dapat menjangkau pembaca yang lebih luas, termasuk masyarakat di luar komunitas Buddhis.

Ia menilai ajaran Buddha, termasuk praktik meditasi, kini semakin dikenal dan dipelajari oleh berbagai kalangan. Karena itu, pelestarian Dhamma menjadi penting agar nilai-nilai kebajikan, kedamaian, dan kebijaksanaan dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Dalam perayaan tersebut, panitia memperkirakan sekitar 1.200 umat Buddha hadir. Jumlah itu berdasarkan kapasitas tempat duduk yang disiapkan panitia sebanyak kurang lebih 1.300 orang.

Lebih lanjut, Yohendy menekankan bahwa praktik berdana dalam perayaan Kathina juga memiliki dimensi sosial. Kebersamaan antara umat dan Sangha mencerminkan semangat saling mendukung, kepedulian, serta gotong royong dalam menjalankan kegiatan keagamaan.

Menurut dia, nilai-nilai tersebut sejalan dengan upaya membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Ketika ajaran agama dipahami dan diterapkan dengan baik, umat diharapkan mampu mengembangkan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang membawa kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.

Yohendy juga mengajak umat Buddha untuk terus menjaga toleransi dan menghormati keberagaman agama di Indonesia. Ia menegaskan bahwa setiap pemeluk agama memiliki hak untuk menjalankan ibadah dan keyakinannya masing-masing tanpa mengganggu atau merugikan orang lain.