Scroll ke bawah untuk melanjutkan
banner 320x300
banner 325x300
banner 325x300
BeritaDaerah

Petani Karet di Kepulauan Nias Gulung Tikar, Harga Anjlok Drastis dalam Sepekan

×

Petani Karet di Kepulauan Nias Gulung Tikar, Harga Anjlok Drastis dalam Sepekan

Sebarkan artikel ini
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 80?

SuaraRepublik.com / Nias Barat – Harga karet di wilayah Kepulauan Nias mengalami penurunan drastis dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut dirasakan para petani, khususnya di Kecamatan Lolofitu Moi, Kabupaten Nias Barat, yang mayoritas menggantungkan penghasilan dari komoditas karet.

Pada Rabu (1/7/2026), warga Desa Hilimbuasi, Waoli Zai, kepada wartawan SuaraRepublik.com mengungkapkan bahwa harga karet yang sebelumnya mencapai Rp17.500 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp14.000 per kilogram. Penurunan itu dinilai sangat memberatkan para petani.

BACA JUGA:  DPC KWI Bangkalan Desak Polres Sampang Transparan Soal Kasus Dugaan Pencabulan

Menurut Waoli Zai, anjloknya harga karet berdampak langsung terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari biaya rumah tangga, pendidikan anak, transportasi, hingga pembayaran listrik menjadi semakin sulit dipenuhi akibat menurunnya pendapatan.

Ia berharap pemerintah bersama pihak terkait dapat segera mengambil langkah nyata untuk membantu menstabilkan harga karet. Menurutnya, pemulihan harga sangat dibutuhkan agar ekonomi petani kembali bergerak dan kesejahteraan masyarakat dapat terjaga.

Keluhan serupa juga disampaikan warga Desa Tuwuna, Edena Zai. Ia mengatakan penurunan harga karet tidak hanya terjadi di desanya, tetapi hampir merata di wilayah Kepulauan Nias, khususnya Kabupaten Nias Barat.

BACA JUGA:  80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat: Forkopimda Gresik Gelar Upacara dan Tasyakuran Hari Bhayangkara ke-80

Berdasarkan informasi yang diterima dari sejumlah agen pembeli, salah satu penyebab turunnya harga diduga karena adanya oknum yang sengaja merusak kualitas karet dengan mencampur seperti kulit pohon karet , lumpur dan lain-lain sehingga menurunkan kualitas hasil produksi. Kondisi tersebut berdampak pada harga beli di tingkat petani.

Masyarakat berharap pemerintah, agen pembeli, dan seluruh pihak terkait dapat memperkuat pengawasan terhadap tata niaga karet serta mencari solusi untuk memulihkan harga. Langkah tersebut dinilai penting agar petani tetap memperoleh penghasilan yang layak dan roda perekonomian masyarakat dapat kembali stabil.

BACA JUGA:  Kasek SMAN 2 Lolofitu Moi Gagas Pendidikan Aksesibel dan Kompetitif untuk ciptakan Siswa yang unggul

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *