MAJALENGKA, Suararepublik.com – Penyakit Gangguan Refluks Gastroesofagus atau yang lebih dikenal dengan GERD merupakan salah satu keluhan pencernaan yang kerap dialami masyarakat. Berdasarkan penjelasan dari Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Penunjang Medis RSUD Majalengka, dr. Hj. Sumarti,Saat Di Temui Suararepublik di ruanganya,menjelaskan kondisi ini sebenarnya termasuk dalam daftar 144 jenis penyakit yang penanganan awalnya dapat diselesaikan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.
“GERD itu masuk dalam kategori penyakit yang seharusnya dapat ditangani dan tertangani sepenuhnya di layanan FKTP, sehingga tidak perlu langsung dirujuk ke rumah sakit,” tegas dr. Sumarti.
Ia menjelaskan bahwa pengaturan pola makan dan kebiasaan berpuasa secara teratur dapat membantu menstabilkan kondisi tubuh. Langkah ini mampu menenangkan pikiran, yang pada gilirannya berperan dalam meredakan gejala yang muncul. Menurutnya, ketidakstabilan kondisi psikologis sangat berpengaruh terhadap keseimbangan hormon dalam tubuh, yang akhirnya bisa memicu kenaikan kadar asam lambung.
“Ketika psikis sedang tidak tenang, produksi hormon terganggu dan risiko asam lambung naik menjadi lebih besar,” jelasnya.
Selain faktor emosi dan stres, jenis makanan yang dikonsumsi juga menjadi pemicu utama. Makanan yang terlalu asam, pedas, minuman bersoda, serta makanan atau minuman yang menimbulkan gas di dalam lambung terbukti dapat memperparah keluhan GERD.
dr. Sumarti menekankan bahwa kunci utama pencegahan dan pengendalian penyakit ini adalah mengenali apa saja yang memicu kekambuhan pada diri masing-masing orang. Meskipun penanganan medis melalui obat-obatan tetap diperlukan, perubahan gaya hidup justru menjadi fondasi yang paling penting.
“Untuk mencegahnya, setiap orang harus paham kapan gejalanya muncul. Hampir selalu berkaitan erat dengan apa yang dimakan dan seberapa besar tekanan atau stres yang dialami,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa gejala GERD sering kali disalahartikan sebagai gangguan jantung, padahal komplikasi serius dari kondisi ini tergolong jarang terjadi. Salah satu tanda khas yang membedakannya adalah rasa perih atau panas yang menjalar disertai keinginan bersendawa.
“Banyak pasien panik mengira terkena penyakit jantung, padahal itu hanya refluks asam lambung. Ciri khasnya ada rasa panas di ulu hati atau dada dan sering bersendawa,” ungkapnya.
Untuk menjaga kondisi lambung tetap sehat, dr. Sumarti menyarankan agar tidak menunda waktu makan dan menghindari makan dalam porsi berlebih. Bagi mereka yang sudah mengalami iritasi atau luka pada dinding lambung, disarankan mengonsumsi makanan yang bertekstur lembut dan mudah dicerna.
“Jangan biarkan perut kosong terlalu lama dan jangan sampai makan terlalu kenyang. Jika lambung sudah terasa perih atau luka, makanan yang lembek lebih aman dikonsumsi,” tambahnya.
Dengan pemahaman yang benar serta penerapan kebiasaan hidup sehat, GERD dapat dikendalikan secara efektif. Pasien tidak harus selalu bergantung pada obat-obatan dalam jangka panjang selama gaya hidup dijaga dengan baik.***
Apa Saja Pemicu dan Bahaya GERD? Ini Penjelasan dari RSUD Majalengka
aris tegar3 min baca








