“Budaya dirawat, silaturahmi diperkuat, ekonomi warga digerakkan, dan kebahagiaan dibagikan. Inilah bentuk kegiatan masyarakat yang menurut saya sangat bermakna karena manfaatnya dirasakan dari banyak sisi,” kata Fahira.
Fahira juga menekankan pentingnya panggung budaya di tingkat kampung dan kecamatan sebagai ruang perjumpaan antarwarga di tengah kehidupan kota yang semakin individual. “Jakarta membutuhkan semakin banyak ruang tempat warga bisa bertemu, saling mengenal, menikmati budaya, dan bergotong royong. Kota global tetap membutuhkan kampung yang guyub dan warga yang peduli satu sama lain,” ungkapnya.
Terkait aspek ekonomi, Fahira menilai kehadiran UMKM dalam festival memberikan dampak positif bagi perputaran ekonomi warga sekitar. Sementara itu, momen Lebaran Anak Yatim dinilai sebagai pengingat bahwa pembangunan kota tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang kasih sayang dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
“Anak-anak yatim adalah anak-anak kita bersama. Membahagiakan mereka dan memastikan mereka merasakan kasih sayang adalah tanggung jawab bersama. Sebuah kota akan semakin kuat ketika warganya memiliki kepedulian kepada sesama,” pungkas Fahira Idris.
Melalui festival ini, Bang Japar Kalideres berharap dapat terus memperkuat semangat gotong royong dan menjadikan budaya Betawi sebagai identitas yang membanggakan di tengah kehidupan bermasyarakat yang majemuk.








Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.