Suararepublik.com Jakarta – Habis Tyo Ardianto terbitlah Fathimah Azzahra. Wakil Ketua BEM UI 2026 ini sedang melesat, di saat Tyo Ardianto lagi nyungsep bersama mobil Fortuner pinjamannya. Alat pelacak PBX Finder yang ditemukannya di kolong mobilnya, malah melacak integritasnya karena mobil pinjaman itu.
Berbeda dengan Tyo Ardianto, Fathimah Azzahra muncul karena orasinya di Bundaran HI yang diposting ke media sosial, dan diskusinya di salah satu televisi nasional, yang terbilang cerdas dan bernas. Fathimah tidak muncul seperti Tyo lewat diksi yang mengatakan Prabowo, Presiden bodoh.
Fathimah Azzahra mahasiswa Fakultas Kedokteran UI angkatan 2023. Berarti, saat ini semester VI mau semester VII. Nanti semester VII posisinya sebagai Wakil Ketua BEM UI selesai. Masa studi dan aktivis kampus yang paling ideal. Artinya, ia benar-benar mahasiswa yang layak dicontoh karena seimbang.
Fathimah Azzahra tidak seperti Tyo Ardianto yang melesat di saat, sebetulnya ia sudah menyelesaikan masa kuliahnya. Fathimah masih punya waktu yang cukup sebagai aktivis mahasiswa. Memang, antara aktivisme dan masa kuliah sering jadi “hantu” yang sulit didamaikan. Fathimah bisa mendamaikannya.
Publik memang sering tidak tahan, kalau sudah melihat anak muda, pintar, dan cantik itu bertemu pada satu orang. Pasti langsung melesat. Fathimah Azzahra sedang mengalami itu. Semoga Fathimah tidak seperti Tyo yang melesat, karena diksi-diksi yang kelewat batas tanpa ia merasa bersalah.
Memang secara narasi, Fathimah Azzahra dan Tyo Ardianto relatif sama. Misalnya, terkait antek asing ia tak terlalu percaya, komunikasi pemerintah yang dianggap buruk, termasuk terkait program-program pemerintah yang dianggap salah sasaran. Tapi cara penyampaian antara Fathimah dan Tyo beda kelas. Fakultas Kedokteran dan Filsafat membedakan itu.
Belum apa-apa, ada kabar Fathimah Azzahra dan keluarganya (ayahnya) mendapat teror. Entahlah, apakah benar atau tidak? Kenapa polanya selalu begitu? Semoga saja Fathimah tidak menyimpulkan bahwa itu perbuatan rezim Prabowo atau bahkan Prabowo langsung dan dikaitkan dengan masa lalu.
Boleh-boleh saja tidak menyukai Prabowo sebagai seorang Presiden, karena bukan pilihan kita. Tapi posisikan saja Prabowo sebagai orang yang lebih tua. Jangan sampai ikut-ikutan pula gaya Tyo yang menamakan kucingnya Prabowo dan seterusnya.
Fathimah Azzahra harus tetap memakai kata yang mendaki, bukan melereng atau mendatar, apalagi menurun, dalam apa yang disebut mengkritik dan lain sebagainya. Tapi itu memang pilihan pribadi masing-masing. Ini negara demokrasi, bahkan kelewat demokrasi, hingga tradisi sendiri pun mulai hilang dan tak dipakai lagi. (Tim)








