SuaraRepublik.com // OGAN KOMERING ILIR — Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai kegiatan nonton bareng (nobar) film Pesta Babi yang digelar bersama sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di wilayah Lempuing dan Lempuing Jaya.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh dan turut melibatkan , , serta .
Sejak awal acara dimulai, suasana diskusi berlangsung hangat dengan dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi daerah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua BEM As-Shiddiqiyah, Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Lempuing, serta Ketua BEM An-Nur bersama sejumlah aktivis mahasiswa lainnya.
Film yang diputar tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga memantik refleksi mahasiswa terhadap berbagai persoalan sosial, ketimpangan, hingga kondisi masyarakat yang dinilai semakin memprihatinkan.
Sorak, tepuk tangan, hingga teriakan emosional mahasiswa terdengar di beberapa adegan yang dianggap menggambarkan realitas sosial di tengah masyarakat.
Diskusi semakin hidup ketika sesi pemaparan materi dibuka. Berbagai pandangan kritis dan argumentasi mahasiswa mulai bermunculan terkait isu sosial, politik, hingga kondisi daerah.
Diskusi dipantik oleh salah satu pemateri yang menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritis dan harus tetap menjadi garda terdepan dalam menyuarakan kebenaran serta keberpihakan terhadap rakyat.
Setelah pemutaran film selesai, menyampaikan pandangannya terkait makna simbolik dari judul Pesta Babi. Menurutnya, kata “pesta” menggambarkan kemewahan dan kekuasaan para elit, sedangkan “babi” dimaknai sebagai simbol kerakusan terhadap harta dan jabatan.
Ia menilai film tersebut menggambarkan bagaimana pesta besar para elit berlangsung di atas penderitaan rakyat kecil.
Pandangan itu kemudian diperkuat oleh yang menyoroti kondisi masyarakat Papua, khususnya terkait rendahnya akses pendidikan dan minimnya pengetahuan di beberapa daerah yang dinilai kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan demi keuntungan pribadi maupun kelompok tertentu.
Melihat diskusi yang semakin tajam dan emosional, kemudian memberikan pandangan dari sisi politik dan hukum. Ia menjelaskan bahwa persoalan ketimpangan sosial dan eksploitasi sumber daya tidak terlepas dari lemahnya penegakan hukum serta praktik politik yang dinilai lebih berpihak kepada kepentingan elit dibanding masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa harus tetap objektif, kritis, dan mengedepankan kajian intelektual agar gerakan mahasiswa tetap menjadi kekuatan moral yang berpihak pada keadilan sosial.
Kegiatan nobar tersebut kemudian berkembang menjadi ruang konsolidasi antar mahasiswa lintas kampus untuk mempererat solidaritas dan membangun semangat gerakan mahasiswa yang lebih kritis, progresif, serta peduli terhadap kondisi sosial masyarakat.
Media ini tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak-pihak terkait guna menjaga keberimbangan informasi sesuai Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
(Tim SR)














