MOROTAI | SuaraRepublik.com — Blokade jalan di Desa Sabatai Tua dan Sabala, Kecamatan Morotai Selatan, Pulau Morotai, berlangsung hampir 11 jam sebelum dibuka pada Selasa, 3 November 2026. Aksi protes warga terkait perubahan lokasi proyek pengaspalan jalan itu sempat menahan puluhan kendaraan angkutan dari Morotai Jaya, Morotai Utara, dan Morotai Timur.
Setelah negosiasi, warga memberikan waktu tiga hari kepada Bupati Pulau Morotai untuk menemui mereka dan merespons tuntutan terkait proyek tersebut.
Aksi pemblokiran dimulai sekitar pukul 06.00 WIT. Hingga pukul 16.00 WIT, sekitar 75 mobil angkutan masih mengantre di sekitar lokasi. Selain kendaraan penumpang, pemblokiran juga menghambat kendaraan pribadi, sepeda motor, dan truk pengangkut barang.
Warga memprotes perubahan lokasi proyek pengaspalan hotmix yang sebelumnya direncanakan di ruas Sabatai-Sabala, tetapi disebut dialihkan ke Desa Juanga.
Pantauan SuaraRepublik.com, antrean kendaraan mengular di sekitar titik pemblokiran. Sejumlah penumpang terpaksa menunggu berjam-jam tanpa kepastian perjalanan, sementara pengguna jalan lainnya harus mencari jalur alternatif.
Sumarjo Taba, sopir angkutan penumpang dari Morotai Utara, mengaku telah menunggu sejak pukul 09.00 WIT. Ia mengatakan Asisten I Sekretariat Daerah Pulau Morotai, Mauluddin Wahab, sempat mendatangi lokasi pada pagi hari. Namun, kedatangan pemerintah daerah belum menghasilkan kesepakatan untuk membuka jalan.
“Sampai sekarang penyelesaiannya belum ada. Tadi pagi pemerintah daerah sudah turun, tetapi solusinya belum didapat. Kami masih menunggu apakah jalan ini dibuka atau belum,” kata Sumarjo.
Ia berharap perjalanan menuju Daruba bisa dilanjutkan hari itu juga karena penumpangnya memiliki keperluan di ibu kota kabupaten tersebut.
“Harapan saya hari ini harus berangkat. Penumpang yang saya bawa punya tujuan di Daruba. Biar sampai pukul delapan atau sembilan malam, kami harus tembus,” ujarnya.
Sumarjo memperkirakan sekitar 100 mobil angkutan dari tiga kecamatan sempat mengantre sejak pagi. Namun, sebagian sopir memilih kembali karena tidak sanggup menunggu lebih lama.
Keluhan serupa disampaikan Ilham Deki, sopir angkutan umum yang melayani perjalanan menuju Daruba. Ia meminta pemerintah daerah berkoordinasi dengan masyarakat Sabatai Tua dan Sabala untuk membahas perubahan lokasi proyek tersebut.
“Kami meminta pemerintah daerah datang dan berkoordinasi dengan masyarakat dua desa ini. Kalau perlu, ajak mereka ke dinas untuk hearing supaya ada solusi, apa tujuannya dan bagaimana hasilnya, sehingga jalan ini bisa dibuka,” kata Ilham.
Ia juga meminta Bupati maupun Wakil Bupati Pulau Morotai turun langsung menemui warga.
“Harapan kami Pak Bupati dan Pak Wakil datang supaya dicarikan solusi. Kalau begini terus, kasihan masyarakat,” ujarnya.
Di tengah aksi tersebut, warga tetap mendesak Bupati Pulau Morotai datang langsung menemui mereka. Desakan itu disampaikan dalam orasi yang berlangsung sekitar pukul 15.00 WIT.
Anggota DPRD Pulau Morotai, M. Johor Boleu, yang juga merupakan putra Desa Sabatai, kemudian hadir bersama masyarakat. Kehadirannya menyusul desakan warga agar wakil rakyat ikut menyampaikan tuntutan kepada pemerintah daerah.
Negosiasi berlangsung dengan melibatkan Johor, koordinator aksi Nurdin Amor, masyarakat, dan pihak kepolisian.
Dalam perundingan, sempat diusulkan agar pemerintah daerah diberi waktu tujuh hari untuk merespons tuntutan warga. Namun, masyarakat menilai tenggat tersebut terlalu lama dan meminta waktu lebih singkat.
Setelah pembahasan, sekitar pukul 16.55 WIT, kedua pihak mencapai kesepakatan. Warga memberikan waktu tiga hari kepada Bupati Pulau Morotai untuk turun langsung menemui masyarakat dan merespons tuntutan mereka.
Usai kesepakatan, warga bersama Johor dan pihak kepolisian bergerak menuju titik pemblokiran untuk membuka kembali akses jalan alternatif atau jalan lingkungan yang selama ini dikeluhkan mengalami kerusakan parah.
Pembukaan akses tersebut mengakhiri aksi blokade yang berlangsung hampir 11 jam. Kendaraan yang sebelumnya tertahan pun dapat kembali melanjutkan perjalanan.
Meski akses jalan telah dibuka, persoalan perubahan lokasi proyek masih menunggu penjelasan resmi pemerintah daerah. Warga kini menanti realisasi kesepakatan tiga hari tersebut, sementara masyarakat pengguna jalan berharap persoalan ini tidak kembali berujung pada pemblokiran akses transportasi menuju Daruba.










Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.