Ijang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan fasilitas tersebut.
Menurutnya, persoalan sosial tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga saja, tetapi membutuhkan kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian berbagai pihak.
“Kolaborasi seperti inilah yang perlu terus diperkuat. Ketika pemerintah, lembaga zakat, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama, persoalan yang sebelumnya terasa berat akan lebih mudah kita selesaikan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemeliharaan fasilitas agar manfaat program dapat terus dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Jangan sampai semangat kita hanya besar ketika peresmian, tetapi kemudian lupa merawatnya. Bantuan yang baik bukan hanya yang selesai dibangun, melainkan yang terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.
Zakat Harus Hadir Menjawab Kebutuhan Masyarakat
Lebih lanjut, Ijang menekankan bahwa BAZNAS Jawa Barat terus mendorong pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang berorientasi pada kebermanfaatan, pemberdayaan, dan penyelesaian persoalan mendasar masyarakat.
Program penyediaan air bersih menjadi salah satu contoh bagaimana dana sosial keagamaan dapat menghadirkan manfaat langsung bagi kehidupan warga.
“Zakat dan sedekah harus semakin dekat dengan persoalan masyarakat. Kita ingin masyarakat merasakan bahwa kepedulian para muzaki dan donatur benar-benar hadir dalam kehidupan mereka, bukan sekadar tercatat dalam laporan kelembagaan,” jelasnya.
Ia berharap fasilitas air bersih di Desa Cikupa dapat menjadi sumber manfaat yang berkelanjutan sekaligus memperkuat semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga fasilitas bersama.
“BAZNAS mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat dalam satu waktu. Namun, kami percaya bahwa kebaikan besar selalu dimulai dari kepedulian yang sederhana. Hari ini kita mengalirkan air, mudah-mudahan bersamanya mengalir pula kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan bagi masyarakat,” tuturnya.
Ijang menutup pesannya dengan menegaskan bahwa nilai sebuah bantuan tidak terletak pada kemeriahan acara penyerahan atau peresmiannya, melainkan pada keberlanjutan manfaat yang ditinggalkannya.
“Sebaik-baik bantuan bukanlah yang paling ramai ketika diresmikan, melainkan yang paling lama manfaatnya dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (Kijang)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.