MOROTAI | SuaraRepublik.com — Sebanyak 116 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dilibatkan dalam Morotai Festival (Morofest) 2026. Namun, laporan panitia pada malam penutupan belum memuat angka transaksi maupun nilai perputaran ekonomi yang dihasilkan selama lima hari penyelenggaraan.
Ketua Panitia Morofest 2026, Ramlan Drakel, menyampaikan laporan tersebut dalam acara malam puncak di kawasan Central Business District (CBD), Kecamatan Morotai Selatan, Jumat (30/10/2026) malam.
Dalam laporannya, Ramlan menyebutkan festival yang berlangsung pada 26–30 Oktober itu diikuti 1.794 peserta dari berbagai perlombaan dan kegiatan. Morofest tahun ini juga masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Fun Run menjadi kegiatan dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 702 orang. Jalan Sehat menyusul dengan 539 peserta. Sementara lomba Mobile Legends diikuti 29 tim atau 145 orang.
Sejumlah kegiatan lain meliputi tarian tradisional, musik Nyangere, Morotai Superstar, parade budaya, Fine Dive, serta kegiatan promosi produk dan kuliner daerah.
Di sektor ekonomi, panitia mencatat 116 pelaku UMKM berpartisipasi dalam pameran dan promosi produk lokal. Ramlan menyebut keterlibatan tersebut sebagai wadah pengembangan ekonomi lokal, perluasan pasar, dan pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Namun, laporan itu belum menjelaskan berapa nilai transaksi yang dibukukan para pelaku UMKM, produk yang paling banyak terjual, maupun perbandingan pendapatan pedagang sebelum dan selama festival.
Padahal, keterlibatan UMKM menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur manfaat ekonomi dari penyelenggaraan sebuah festival. Banyaknya peserta dan stand yang dibuka belum dengan sendirinya menunjukkan besarnya dampak ekonomi bagi masyarakat.
Panitia juga mencatat partisipasi enam kecamatan dan 88 desa se-Kabupaten Pulau Morotai. Selain itu, terdapat 12 stand instansi vertikal, mitra, dan perusahaan, di antaranya Telkomsel, Pegadaian, Bank Indonesia, PLN, TNI Angkatan Laut, Universitas Pasifik, BPOM, BPS, dan Jababeka.
Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) turut membuka stand, termasuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Bappeda, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Di tengah banyaknya unsur yang terlibat, laporan ketua panitia belum menguraikan evaluasi penyelenggaraan, capaian promosi pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan, hingga manfaat konkret yang diterima masyarakat.
Dengan demikian, angka partisipasi yang disampaikan panitia baru menggambarkan skala keterlibatan dalam kegiatan. Ukuran keberhasilan Morofest masih membutuhkan data yang lebih terukur, terutama terkait dampak ekonomi, promosi destinasi, dan manfaat bagi pelaku usaha lokal.
Morofest 2026 pun menyisakan pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana kemeriahan lima hari festival tersebut benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi dan pariwisata bagi Pulau Morotai?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.