suararepublik.com || PALEMBANG — Operasional Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tangga Takat, Kecamatan Seberang Ulu II, Kota Palembang, tengah menjadi sorotan menyusul munculnya sejumlah keluhan warga terkait dugaan persoalan pengelolaan limbah, bau menyengat, kerusakan bangunan rumah, hingga dugaan intimidasi terhadap awak media saat menjalankan tugas peliputan.
Polemik tersebut kini tidak hanya menyangkut hubungan antara warga dan pengelola SPPG.
Sorotan mulai mengarah kepada instansi yang memiliki fungsi pengawasan, khususnya mengenai apakah operasional SPPG benar-benar telah memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP).
Jika pengelola menyatakan seluruh prosedur telah dipenuhi, publik tentu berhak mendapatkan jawaban berdasarkan hasil pemeriksaan dan dokumen, bukan semata-mata klaim.
Sebaliknya, jika ditemukan pelanggaran, pemerintah dan instansi terkait tidak boleh membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.
WARGA KELUHKAN DUGAAN LIMBAH DAN BAU MENYENGAT
Sejumlah warga mengklaim adanya lelehan minyak dan lemak dari aktivitas dapur SPPG yang diduga mengalir menuju saluran air di sekitar permukiman.
Menurut warga, kondisi tersebut pada waktu tertentu menimbulkan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan masyarakat.
Mamat, perwakilan warga Seberang Ulu II, menyampaikan keberatan tersebut pada Kamis (27/8/2026).
“Pembuangan limbah mereka dilakukan melalui wilayah tepat tempat kami beraktivitas. Kalau sore hari atau waktu-waktu tertentu, timbul bau yang amat sangat tidak menyenangkan bagi kami. Kami tidak akan mundur selangkah pun menuntut hak atas lingkungan yang sehat,” tegas Mamat.
Warga meminta instansi terkait turun langsung ke lokasi untuk memeriksa sistem pengelolaan limbah dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Pertanyaan yang kini muncul sederhana:
Jika pengelolaan limbah benar-benar telah memenuhi SOP, apa penyebab munculnya keluhan bau dan dugaan aliran limbah ke saluran sekitar?
Jawaban atas pertanyaan tersebut semestinya diberikan melalui pemeriksaan teknis dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
KERUSAKAN RUMAH WARGA DIMINTA DIVERIFIKASI
Selain persoalan lingkungan, warga juga mengeluhkan kerusakan sejumlah rumah yang berada di sekitar lokasi pembangunan SPPG.
Keluhan tersebut meliputi plafon roboh, atap mengalami kebocoran, serta dinding rumah retak.
Warga menduga kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas pembangunan fasilitas SPPG.
Namun dugaan tersebut belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan teknis.
Karena itu, instansi teknis diminta turun untuk memastikan apakah terdapat hubungan antara aktivitas pembangunan dengan kerusakan bangunan warga.
Warga juga mengaku hingga kini belum memperoleh penyelesaian maupun kompensasi atas kerusakan yang mereka keluhkan.
Jika pemeriksaan nantinya membuktikan adanya hubungan sebab-akibat, publik tentu berhak mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana penyelesaian terhadap warga terdampak.
DUGAAN INTIMIDASI WARTAWAN IKUT DISOROT
Ketegangan semakin meningkat ketika warga mendatangi lokasi Dapur SPPG untuk meminta penjelasan mengenai persoalan yang mereka keluhkan.










Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.