“Silakan bersurat kepada Ketua Majelis Wilayah dengan tembusan kepada MPH Sinode GKPB agar pelayanan tersebut dapat dikoordinasikan,” katanya.
Jejak Sejarah Desa Blimbingsari
Pemilihan Blimbingsari juga menghadirkan dimensi sejarah yang kuat. Mengutip laman resmi Pemerintah Desa Blimbingsari, desa ini bermula dari perpindahan sejumlah warga Kristen dari Denpasar pada 1939 pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Sebanyak 30 orang lebih dahulu dikirim untuk merebas kawasan hutan di wilayah utara Melaya. Mereka membuka lahan pertanian sekaligus mempersiapkan permukiman bagi keluarga-keluarga yang kemudian menyusul bermigrasi.
Kawasan tersebut kala itu dipenuhi pohon belimbing yang berbunga tetapi tidak berbuah. Dari situlah nama Blimbingsari kemudian dikenal dan diwariskan hingga sekarang.
Seiring waktu, desa ini berkembang menjadi salah satu contoh pengembangan wisata berbasis masyarakat di Indonesia. Pada Wonderful Indonesia Tourism Award (WITA) 2017, Blimbingsari meraih Juara I kategori Community Based Tourism (CBT). Empat tahun kemudian, desa ini masuk dalam 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, sebagai pengakuan atas tata kelola pariwisata yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Rangkaian NBC III akan diawali di Desa Blimbingsari sebagai lokasi utama kegiatan. Adapun malam penutupan yang dirangkai dengan malam budaya dijadwalkan berlangsung di Kampus Universitas Dhyana Pura (Undhira), Kabupaten Badung(PS)








Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.