Scroll ke bawah untuk melanjutkan
banner 320x300
banner 325x300
banner 325x300
Opini

Merawat Semangat Pancasila untuk Indonesia yang Damai dan Bermartabat

×

Merawat Semangat Pancasila untuk Indonesia yang Damai dan Bermartabat

Sebarkan artikel ini
Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni merupakan momentum penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno pertama kali memperkenalkan Pancasila dalam sidang BPUPKI sebagai dasar negara Indonesia. Sejak saat itu, Pancasila menjadi fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus menjadi ideologi bangsa dan pedoman hidup masyarakat Indonesia.
Pancasila lahir dari pemikiran luhur para pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia berdiri di atas persatuan, keadilan, kemanusiaan, dan ketuhanan. Hingga saat ini, nilai-nilai Pancasila tetap relevan di tengah perkembangan zaman, arus globalisasi, dan kemajuan teknologi yang semakin cepat. Karena itu, Hari Lahir Pancasila bukan hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga pengingat agar masyarakat Indonesia terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan bahwa kehidupan bangsa harus dibangun di atas nilai keimanan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat: 13
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Ayat ini mengandung makna bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus dijaga dengan saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai. Nilai tersebut sangat sejalan dengan semangat Pancasila yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa Indonesia.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan pentingnya menjaga etika, adab, dan rasa kemanusiaan dalam kehidupan sosial. Di era kebebasan berpendapat saat ini, masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan dan kritik. Namun kebebasan tersebut harus tetap disertai tanggung jawab moral, sopan santun, dan penghormatan terhadap sesama.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai kemanusiaan dapat diwujudkan dengan menjaga tutur kata kepada guru, dosen, orang tua, dan sesama manusia. Perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk menghina, merendahkan, atau menyebarkan kebencian, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat: 23 bagian Ahir
“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan Ah, dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.”
Ayat ini mengajarkan bahwa bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga bangsa yang menjunjung tinggi adab dan etika.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan agama. Dalam kehidupan saat ini, persatuan sering diuji oleh perbedaan pilihan politik, kepentingan kelompok, dan persaingan sosial. Kompetisi untuk menjadi yang terbaik memang penting agar bangsa terus maju, namun persaingan tidak boleh merusak persaudaraan dan persatuan bangsa.
Al-Qur’an memberikan tuntunan dalam QS. Ali Imran ayat 103:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Semangat persatuan mengajarkan bahwa keberhasilan pribadi harus tetap memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Persatuan adalah kekuatan yang membuat Indonesia tetap kokoh hingga saat ini.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan bahwa setiap persoalan hendaknya diselesaikan dengan dialog dan musyawarah. Sikap saling mendengar, menghargai pendapat, dan mengutamakan kebijaksanaan menjadi jalan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan demokratis.
Sementara itu, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, merupakan cita-cita luhur bangsa agar seluruh rakyat memperoleh kehidupan yang layak, sejahtera, dan adil tanpa diskriminasi. Nilai ini dipertegas dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 yang menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Artinya, kekayaan bangsa harus dikelola untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk kepentingan segelintir orang.
Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara dan ideologi bangsa, tetapi juga pedoman hidup masyarakat Indonesia dalam membangun kedamaian, persatuan, dan keadilan sosial. Selama nilai-nilai Pancasila tetap hidup dalam tindakan nyata, Indonesia akan terus menjadi bangsa yang kuat, damai, bermartabat, dan bersatu dalam keberagaman.
“Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia, pemersatu dalam keberagaman, dan cahaya menuju Indonesia yang adil, damai, dan sejahter.” 🇮🇩 opini pribadi penulis dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila.” Syarkawi D S.H.,M.M.,C.Med.CIRM., CIRP.   Kepala Depertemenb  Hukum dan  Advokasi  Komnas Pendidikan Indonesia DPW. Kaltim.
BACA JUGA:  Merawat Semangat Pancasila untuk Indonesia yang Damai dan Bermartabat
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *