Beritarepublikviral//PADANG, — Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat di Jalan Sudirman seakan menyambut kedatangan cahaya baru pada Rabu, 2 September 2026. Di sanalah, Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A. — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Pusat — berdiri tegak, mengukuhkan barisan pelayan agama dan umat untuk lima tahun ke depan. Langkah ini bukan sekadar serah terima jabatan, melainkan jantung lembaga keagamaan yang kembali berdetak kian kuat demi keberkahan negeri.
Upacara sakral ini dibuka dengan pembacaan Surat Keputusan MUI Pusat bernomor Kep-82/DP-MUI/VII/2026, yang lahir dari tinta kesungguhan KH. M. Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI Pusat, dan Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A. sendiri. SK tersebut memanggil nama-nama yang dipilih untuk memikul amanah, dibacakan dengan lantang jernih oleh Dr. M. Ihsan Tanjung, S.Ag., S.H., M.H., M.Si., Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat.
Susunan pimpinan puncak kini telah utuh:
– Dewan Pertimbangan: Prof. Dr. Asasriwarni, M.H. (Ketua) — Prof. Dr. Edi Safri (Sekretaris)
– Dewan Pimpinan Harian: Dr. Zulkarnaini, M.Ag. (Ketua Umum) — Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H. (Sekretaris Umum) — Dr. Syamsu Akmal, S.Ag., M.M. (Bendahara Umum)
Di bawah payung mereka berdiri kokoh 3 Wakil Ketua Umum, 12 Ketua Bidang beserta jajaran pendampingnya, lengkap dengan 18 Komisi serta 2 Lembaga yang dikukuhkan melalui SK tersendiri — dibacakan oleh Hendri Novigator, S.Psi.I., M.Pd. — menjadikan lebih dari seratusan pengurus bersiap mengemban tugas. Angka-angka bukan sekadar jumlah, melainkan sejauh mana kasih sayang dan pengabdian akan terhampar bagi seluruh umat di tanah Minang.
🤲 Bukan Kursi Perebutan, Melainkan Medan Pengabdian
Dalam kata sambutannya, Dr. Zulkarnaini, M.Ag. menyampaikan terima kasih tulus kepada seluruh tim penyusun kepengurusan yang telah menyisir setiap sudut potensi demi melengkapi barisan sebaik-baiknya.
“Ketahuilah, jabatan di sini bukanlah kursi kekuasaan yang diperebutkan bagai pimpinan pemerintahan. Ia bukan milik siapa pun, melainkan titian pelayanan yang dipikul bersama.” — ucapnya lembut namun tegas. Ia sadar riak-riak sempat memecah permukaan, namun ia merangkul semua pihak: “Biarlah riak berlalu, mari kita bersama-sama membesarkan nama MUI di jalan membina umat.”
Zulkarnaini mengingatkan hakikat keberadaan MUI: menjadi sandaran tempat umat bersandar, menjadi pelita rujukan di tengah samar persoalan agama, sekaligus mitra setara pemerintah. Ia mengutip perumpamaan abadi dari Buya Hamka:
“MUI itu ibarat kue bika — di atas bara, di bawah api.”
Berada tepat di tengah dua kepentingan yang sama berat — kepentingan umat maupun negara — menyeimbangkan keduanya dengan keadilan tanpa tergelincir ke salah satu tepian.
🌿 Langkah Masa Lalu, Cermin Masa Depan

Mewakili Ketua Umum MUI Pusat, Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag. hadir membawa pesan damai sekaligus penegasan: “SK ini lahir setelah mendengar semua suara, mempertimbangkan segala dinamika — tidak ada satu persoalan pun pada dasarnya.”
Namun ia mengingatkan: dinamika tak seharusnya melahirkan kobaran api yang membakar rumah sendiri. Dengan pepatah Minang yang menusuk namun menyejukkan hatinya berkata:
“Basilang kayu di tungku, maka nyalalah api kehidupan. Namun kearifan kini makin langka — alih-alih nasi yang matang, malah dapurnya yang hangus terbakar.”
“Biarlah yang berlalu berlalu saja. Biduak lalu kiambang batauik — biarkan perahu berlalu, keramba pun kembali terikat. Kearifan ulama Minangkabau harus bangkit kembali, menjadi suluh yang tak akan pernah padam.”
Ia pun membuka lembar sejarah yang membanggakan hati: MUI Sumatera Barat justru lebih dulu lahir daripada MUI Pusat. Di Masjid Jamik Birugo, Bukittinggi, pada 27 Mei 1968, para ulama berkumpul dan melahirkan MUI Sumbar di bawah pimpinan pertama, Buya H. Mansur Daud Dt. Palimo Kayo. Baru kemudian tahun 1975, atas inisiasi Buya Hamka, MUI Pusat didirikan — dan Buya HMD turut menandatangani kelahirannya, menjadikan MUI Sumbar pendiri sekaligus anggota pertama. Darah sejarah mengalir deras di nadinya; warisan luhur itu kini berpindah ke bahu yang baru.

Maka hari ini, di bawah langit Sumatera Barat yang senantiasa berkah, kepengurusan baru resmi berdiri. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk Dia yang Maha Memiliki. Langkah kaki mereka kini menjadi langkah umat, suara fatwa mereka menjadi petunjuk jalan, hingga lima tahun ke depan menjadi ladang amal yang takkan pernah layu, insya Allah.
Bersama membangun, bersama melindungi, bersama menerangi — hingga pelita tak pernah padam di bumi Minangkabau.(Laporan: Tb. Mhd. Arief Hendrawan)







