MAJALENGKA,Suararepublik.com – Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Majalengka, Rahmat Kartono, menegaskan bahwa pelaksanaan Upacara Adat Mapag Cai di Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, tepatnya di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Situ Ciranca, bukan sekadar seremoni tahunan biasa. Tradisi ini menyimpan makna mendalam secara adat, budaya, sosial, hingga kelestarian hayati.
Pernyataan tersebut disampaikan Rahmat Kartono saat menghadiri puncak acara Mapag Cai, Sabtu (25/07/2026). Menurutnya, pandangan yang sering menganggap air sekadar sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan harus diluruskan kembali.
“Air bukan hanya sesuatu yang kita gunakan, tetapi sesuatu yang menghidupi. Karena itu, ketika kita menyambut air, sesungguhnya kita sedang menyambut kehidupan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Mapag Cai adalah wujud nyata kearifan lokal leluhur. Melalui tradisi ini, nenek moyang mengajarkan manusia untuk menghormati alam, menjaga sumber mata air, dan menumbuhkan sikap rasa syukur. Lebih dari itu, upacara ini menjadi pengingat tegas: manusia tidak boleh mengambil lebih banyak dari alam daripada apa yang mampu dijaganya.
Nilai ini sejalan dengan falsafah Sunda Buhun yang dipegang teguh oleh masyarakat Majalengka: “Leuweung kaian, gawir awian, sampalan kebonan, jeung cai jadi kahirupan.” Artinya, hutan dirawat agar tetap lestari, tebing dirawat agar kokoh, tanah terbuka dirawat menjadi lahan produktif, dan air adalah inti dari seluruh kehidupan.
“Cai téh sumber kahirupan. Lamun cai dijaga, kahirupan bakal kajaga,” tegasnya mengutip pepatah tersebut.
Lebih lanjut, Rahmat Kartono mendorong agar Mapag Cai dijadikan salah satu daya tarik utama pariwisata berbasis budaya di Majalengka. Ia melihat DTW Situ Ciranca memiliki potensi besar untuk dikembangkan bukan hanya sebagai tempat yang indah dipandang, melainkan destinasi yang memiliki jiwa, sejarah, tradisi, dan nilai budaya yang kuat.
“Kita ciptakan wisata yang berkelas. Bukan sekadar tempat yang indah untuk dikunjungi, melainkan tempat yang memiliki cerita, nilai, dan makna untuk dikenang. Ini sangat penting untuk mengangkat Situ Ciranca sebagai destinasi unggulan berbasis alam sekaligus budaya,” paparnya.
Selain menjaga kelestarian alam dan warisan budaya, tradisi ini juga berperan vital dalam mempererat kebersamaan antarwarga. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat bersatu demi masa depan yang lebih baik.
“Hari ini kita tidak hanya memapag cai. Kita sedang memapag kahirupan, memapag harepan, dan memapag masa depan. Mari kita jaga airnya, rawat alamnya, lestarikan budayanya, dan hidupkan pariwisatanya,” ajaknya.
Hal ini, kata dia, sejalan dengan prinsip kasaean atau kebaikan bersama yang harus terus dilestarikan. “Ketika alam dijaga, budaya dihormati, dan masyarakat bergerak bersama, maka destinasi ini akan tumbuh bukan hanya menjadi tempat dikunjungi, melainkan ruang kehidupan yang memberi manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Majalengka,” pungkasnya.****
Reporter : Aris







