Suararepublik.com Jakarta, 5/11/26 – Sosok Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mendapat sorotan bukan hanya karena kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi Korps Bhayangkara, tetapi juga karena karakter personal yang dinilai sejumlah orang dekat dan rekan pergaulannya mencerminkan kesederhanaan, kerendahan hati, serta tata krama dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan tokoh pers sekaligus Ketua Umum PW-FRN Counter Polri, Raden Mas MH Agus Rugiarto atau yang dikenal dengan Agus Flores.
Menurut Agus Flores, berdasarkan pengalaman dan pengamatannya ketika berada di berbagai lingkungan pergaulan, Suyudi merupakan sosok yang tidak membatasi hubungan pertemanan berdasarkan jabatan, status sosial, maupun latar belakang seseorang.
“Pak Suyudi itu pergaulannya cukup kuat. Beliau tidak memilih-milih teman. Tidak melihat seseorang berasal dari mana, apa jabatannya, atau bagaimana status sosialnya. Saya merasakan sendiri hal itu ketika berada di berbagai lingkungan,” ungkap Agus Flores.
Ia menilai, sikap tidak sombong dan kemampuan menempatkan diri di tengah masyarakat merupakan karakter yang sering mendapat perhatian dari orang-orang yang mengenalnya.
Bukan hanya soal pergaulan, Agus Flores juga menyoroti nilai-nilai keluarga yang menurut pengamatannya melekat pada pribadi Suyudi. Mulai dari penghormatan kepada orang tua, tata krama, hingga sikap menjaga nilai agama dan budaya Indonesia.
“Yang saya lihat, beliau sangat menghormati orang tua. Tata kramanya baik. Nilai agama dan budaya Indonesia juga selalu menjadi bagian penting yang harus dijaga. Ini merupakan hal-hal yang patut dihargai dari seorang pemimpin,” tuturnya.
Agus Flores juga menyinggung loyalitas Suyudi terhadap pimpinan serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah organisasi.
Menurutnya, loyalitas dalam institusi bukan sekadar persoalan kepatuhan terhadap atasan, melainkan juga harus diwujudkan melalui integritas, tanggung jawab, dan komitmen terhadap kepentingan institusi serta masyarakat.
Menariknya, Agus Flores mengaku jarang mendengar komentar negatif dari lingkungan pergaulan yang mengenal pribadi Suyudi. Namun, ia menegaskan bahwa penilaian terhadap seorang pejabat publik tetap harus dilihat secara objektif, termasuk melalui kinerja dan kebijakan yang dijalankan.
“Beliau sering mendapat pujian dari orang-orang yang berinteraksi langsung dengannya. Ada yang menyebut sosok anak saleh, rendah hati, menghormati orang tua, dan tidak menjaga jarak dengan masyarakat,” tambahnya.
Bagi Agus Flores, jabatan Kapolri merupakan amanah besar yang tidak hanya menuntut ketegasan dalam penegakan hukum, tetapi juga kemampuan menjaga hubungan kemanusiaan, etika, dan kepercayaan publik.
Sebab, seorang pemimpin tidak hanya dikenang dari tingginya jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang tidak memiliki kekuasaan.
“Pemimpin yang baik bukan hanya dihormati karena jabatannya, tetapi juga karena sikap dan perilakunya. Rendah hati, menghargai orang tua, menjaga budaya, serta tidak membeda-bedakan teman adalah nilai yang harus terus dipelihara,” pungkas Agus Flores. (Tim)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.