TERNATE | SuaraRepublik.com — Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara mendorong pengakuan Bahasa Tidore sebagai bahasa tersendiri dalam peta bahasa nasional. Upaya tersebut dilakukan dengan mengajukan permohonan peninjauan status Bahasa Tidore berdasarkan data dan kajian akademis yang telah dihimpun.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Nukman, S.S., M.Hum., menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam seminar kebahasaan pada rangkaian Bulan Bahasa yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMABIN), FKIP Universitas Khairun (Unkhair), di Gedung Aula Banau FKIP Unkhair, Ternate, Rabu (21/10/2026).
Nukman mengatakan, pengalamannya selama hampir tujuh tahun sembilan bulan bertugas di Maluku Utara membuatnya memahami harapan masyarakat agar Bahasa Tidore mendapatkan pencatatan yang sesuai dalam pemetaan bahasa nasional.
“Perjalanan hampir sekitar 7 tahun 9 bulan di Maluku Utara, saya memang bisa merasakan apa yang kemudian menjadi harapan kita semua agar status Tidore sebagai sebuah bahasa memang tercatat dengan baik dalam peta bahasa nasional,” ujar Nukman.
Menurutnya, aspirasi tersebut tidak hanya menjadi harapan masyarakat Tidore, tetapi juga menjadi perhatian dirinya secara pribadi maupun dalam kapasitas kelembagaan.
Sebagai langkah konkret, Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara telah mengirimkan surat resmi kepada Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa pada 30 April lalu. Surat tersebut berisi permohonan agar status Bahasa Tidore dalam pemetaan bahasa nasional dapat dipertimbangkan kembali dengan merujuk pada data dan hasil kajian yang tersedia.
Upaya itu menjadi bagian dari dorongan agar keberadaan Bahasa Tidore memperoleh pengakuan yang sesuai berdasarkan kajian kebahasaan. Namun, penetapan statusnya tetap memerlukan pertimbangan dari pihak berwenang di tingkat pusat.
Seminar kebahasaan dalam rangka Bulan Bahasa tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai pelestarian bahasa daerah di Maluku Utara. Keberadaan bahasa daerah dinilai penting untuk dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat dan warisan budaya yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.