Suararepublik.com Jakarta 12/10/26 – Riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka di Singapura kerap menjadi perbincangan di ruang publik. Untuk memahami posisinya secara objektif, pemahaman mengenai sistem pendidikan di Singapura menjadi sangat krusial. Dalam sebuah diskusi komprehensif, Prof. Sulfikar Amir, seorang akademisi dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, memaparkan analisis mendalam mengenai perjalanan akademik tokoh publik tersebut berdasarkan rekam jejak yang tercatat.
Bagaimana sebenarnya sistem pendidikan Singapura bekerja, dan di mana posisi pendidikan menengah hingga tinggi Gibran jika disetarakan dengan sistem di Indonesia? Berikut adalah penelusuran faktanya.
Beda Negara, Beda Sistem Pendidikan Langkah pertama untuk membedah rekam jejak ini adalah dengan memahami bahwa Singapura mengadopsi struktur pendidikan ala Inggris (British). Jenjang pendidikan dirancang berbeda dengan sistem 6-3-3 (SD, SMP, SMA) yang berlaku di Indonesia.
Di Singapura, pendidikan dasar atau Primary School ditempuh selama 6 tahun (setara SD). Setelah itu, siswa memasuki fase Secondary School selama 4 tahun, yang diakhiri dengan ujian penentu bernama O Level (Ordinary Level). Lulusan O Level ini, jika disetarakan dengan sistem Indonesia, setara dengan tamatan SMP ditambah satu tahun pertama di jenjang SMA (kelas 10).
Setelah O Level, jalur pendidikan mulai bercabang sesuai nilai dan minat siswa:
Junior College (JC) / A Level: Diperuntukkan bagi siswa dengan nilai O Level tinggi yang ingin melanjutkan ke universitas. Program ini setara dengan pendidikan SMA penuh di Indonesia.
Politeknik: Berlangsung selama 3 tahun, program ini dirancang untuk siswa yang ingin langsung terjun ke dunia kerja, setara dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Tanah Air.
Menelusuri Jejak di Orchid Park Secondary School Merujuk pada data Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan analisis Prof. Sulfikar, Gibran menyelesaikan pendidikan dasar dan dua tahun pertama jenjang menengah pertama di Solo. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Singapura dan masuk ke Orchid Park Secondary School.
Di institusi inilah ia menempuh kelas 9 dan 10, yang berujung pada kelulusan ujian O Level. Kesalahpahaman publik sering kali terjadi di titik ini. Meskipun menyandang kata “Secondary School”, jenjang yang diselesaikan Gibran di tahap ini belumlah setara dengan lulusan SMA secara penuh di Indonesia, melainkan baru mencapai ekuivalensi kelas 1 SMA.
Karena tidak melanjutkan dan menyelesaikan program A Level (Junior College) di Singapura, secara teknis yang bersangkutan tidak memenuhi syarat pendaftaran untuk masuk ke universitas negeri terkemuka di Singapura, seperti NTU atau National University of Singapore (NUS), yang mewajibkan ijazah A Level atau diploma politeknik.
Status MDIS dan Mekanisme Penerbitan Ijazah Selepas pendidikan menengah dan sempat mencoba mendaftar ke UTS melalui program Insearch, Gibran tercatat melanjutkan pendidikan tingginya di Management Development Institute of Singapore (MDIS).
Dalam ekosistem pendidikan Singapura, MDIS bukanlah sebuah universitas negeri, melainkan institusi pendidikan swasta yang berbentuk akademi atau institut. Sebagai lembaga swasta, MDIS tidak memiliki kewenangan hukum dari otoritas setempat untuk menerbitkan ijazah atau gelar akademik atas namanya sendiri.
Sebagai gantinya, MDIS menjalankan model bisnis pendidikan tinggi dengan cara menyewa kurikulum dari universitas mitra di luar negeri, salah satunya adalah University of Bradford yang berbasis di Inggris. Para pengajar di Singapura akan memberikan layanan perkuliahan sesuai standar kurikulum tersebut.
Setelah mahasiswa menyelesaikan masa studinya dengan memenuhi seluruh persyaratan, ijazah kelulusan akan diterbitkan secara sah dan langsung oleh universitas mitra, dalam hal ini University of Bradford, bukan oleh MDIS. Inilah yang menjelaskan mengapa gelar sarjana yang diperoleh berasal dari institusi di Inggris, meskipun proses perkuliahannya berlangsung di Singapura.
Kesimpulan Diskusi akademis ini memberikan pencerahan bahwa perdebatan mengenai riwayat pendidikan Gibran di Singapura berakar pada perbedaan fundamental antara sistem pendidikan kedua negara. Secara struktur, pendidikan menengah menengahnya di Singapura berhenti di tingkat O Level, yang membuat jalurnya menuju pendidikan tinggi swasta berjejaring internasional, seperti MDIS dan University of Bradford, menjadi pilihan logis dan sesuai dengan regulasi akademik yang berlaku di negara tersebut. (Tim)










Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.