banner 325x300
banner 325x300
BeritaDaerah

Ninik Mamak 9 Nagari Kompak Mengantarkan Bakal Calon Ketua LKAAM Kota Padang, Dorong Reformasi Hubungan KAN dan LKAAM

×

Ninik Mamak 9 Nagari Kompak Mengantarkan Bakal Calon Ketua LKAAM Kota Padang, Dorong Reformasi Hubungan KAN dan LKAAM

Sebarkan artikel ini
Di bawah panji Forum Komunikasi Kerapatan Adat 9 Nagari Kota Padang (FKKAN), yang dipimpin oleh Sofyan Dt. Bijo, SH.

BeritaRepublikViral // PADANG, — Angin sejuk adat kembali berhembus menyapa bumi Padang. Sembilan nagari mengunci hati dalam satu tekad, berjalan beriringan tanpa terpisah langkah. Para ninik mamak bukan sekadar berjalan—mereka berdansa bersama semangat persaudaraan, membuktikan bahwa persatuan bukan sekadar kata yang terukir di atas kertas, melainkan darah yang mengalir di nadi setiap pemangku adat.

Di bawah panji Forum Komunikasi Kerapatan Adat 9 Nagari Kota Padang (FKKAN), yang dipimpin oleh Sofyan Dt. Bijo, SH., para pemimpin adat dari sembilan penjuru nagari menyatukan langkah.

Musdafirman Dt. Rajo Di Guci, S.Si., Ketua KAN Pauh IX Kota Padang, berjalan di barisan terdepan, bukan untuk memimpin sendirian, melainkan untuk mengangkat layar harapan bersama. Mereka mengantarkan Irwan Basir Dt. Rajo Alam, SH., sebagai bakal calon Ketua LKAAM Kota Padang—sebuah prosesi yang berbisik lebih lantang daripada seribu pidato.

🤝Dorong Pembagian Ranah KAN dan LKAAM Yang Lebih Jelas

Suara Musdafirman Dt. Rajo Di Guci bergema lembut namun tegas, bagai aliran sungai yang tahu ke mana ia bermuara:

“KAN adalah rumah adat di nagari. LKAAM harus mampu menjadi jembatan dan penguatnya, bukan masuk ke ranah yang menjadi kewenangan KAN.”

BACA JUGA:  Ditlantas Polda Kaltim Beri Edukasi Safety Riding Kepada Jajaran Kodam VI Mulawarman, Tingkatkan Kesadaran Berlalu Lintas

Ia mengingatkan kita bahwa dua sayap bukanlah untuk saling mendahului dalam terbang, melainkan untuk sama-sama mengangkat burung adat terbang lebih tinggi. KAN berdiri tegak sebagai benteng pusako dan sako di tanah kelahirannya, sementara LKAAM mengulurkan tangan sebagai jembatan yang menghubungkan nagari dengan nagari, menjalin kasih sayang di seantero kota. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah—semua menempati tempat yang Tuhan dan adat tetapkan dengan penuh kebijaksanaan.

📖Mencegah Dualisme Kepemimpinan dan Legitimasi Adat

Adat berbicara tentang ketertiban, sebagaimana alam berbicara tentang keseimbangan. Musdafirman menyentuh luka yang kadang diabaikan: ketidakjelasan batas adalah benih perselisihan.

“Jangan sampai terjadi dua nahkoda dalam satu kapal. Kalau kewenangan adat tidak dijelaskan dengan tegas, persoalan seperti ini bisa berulang dan meluas ke nagari-nagari lain.”

Sebagaimana tubuh manusia memiliki anggota yang masing-masing tahu tugasnya—mata melihat, kaki melangkah, tangan memeluk—begitu pula lembaga adat. Tidak ada persaingan, hanya pelengkap. Jika batas dijalin dengan kejelasan, maka damai akan berlabuh di setiap nagari. Jika sebaliknya, gelisah akan menjadi tetangga yang tak diundang.

BACA JUGA:  Polsek Cengkareng Gagalkan Peredaran 2.500 Butir Obat Keras Daftar G, Satu Pengedar Diamankan

🌅Dorong LKAAM Menjadi Jembatan KAN, Bukan Tembok

Para ninik mamak meletakkan harapan besar pada sosok Irwan Basir Dt. Rajo Alam, SH. Bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia dipandang memahami satu hal yang paling hakiki: LKAAM adalah pelayan nagari, bukan penguasanya.

“Kalau ada konflik sako di nagari, jangan sampai lembaga adat justru menjadi bagian dari persoalan. Kita membutuhkan lembaga yang mampu menengahi, mempertemukan dan menguatkan keputusan adat dari nagari.”

LKAAM masa depan haruslah lembaga yang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, yang merangkul lebih luas daripada memisahkan. Ia berdiri di tengah-tengah, bagai tiang penyangga yang tidak menaungi sendiri, melainkan memastikan seluruh atap adat teduh bagi semua anak kemenakan.

💚SACIOK BAK AYAM, SADANCIANG BAK BASI

Langkah sembilan nagari ini bukan sekadar pengantaran calon. Ia adalah deklarasi hati: bahwa adat Minangkabau masih bernapas, masih berdenyut, masih memiliki pemeluk yang tak rela ia terpinggirkan.

Musdafirman merangkumnya dengan indah:
“Tujuannya bukan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Tujuannya adalah bagaimana adat tetap berada pada tempatnya, ninik mamak kembali menjadi rujukan, dan anak kemenakan mendapatkan kepastian dalam kehidupan bernagari.”

KAN tetap kokoh di tanahnya, bagai pohon beringin yang berakar kuat. LKAAM melebarkan sayapnya, bagai angin yang membawa benih perdamaian dari satu nagari ke nagari lain. Keduanya saling membutuhkan, sebagaimana siang membutuhkan malam, bumi membutuhkan hujan.

Semangat saciok bak ayam, sadanciang bak basi—satu suara, satu irama—harus terus bergema. Bukan hanya saat Musda tiba, tetapi setiap hari, di setiap pertemuan, di setiap keputusan yang diambil atas nama adat.

Maka, langkah sembilan nagari ini adalah fajar baru yang menyingsing di cakrawala adat Padang. Semoga Irwan Basir Dt. Rajo Alam, SH., dan seluruh pemimpin adat ke depan, mampu memegang amanah ini dengan hati yang lapang, bagai samudera yang tak pernah menolak sungai apa pun yang datang memeluknya.

Karena pada akhirnya, adat bukan milik lembaga. Adat adalah milik anak kemenakan, warisan leluhur yang harus kita jaga, bagai mata air yang tak boleh keruh oleh tangan-tangan yang tak bijaksana.(Tb Mhd Arief Hendrawan)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *