banner 325x300
banner 325x300
BeritaNasional

Bertajuk Udhar Banda Karma, Tampilkan 38 Karya Seni Lukisan

×

Bertajuk Udhar Banda Karma, Tampilkan 38 Karya Seni Lukisan

Sebarkan artikel ini

Suararepublik.com # Denpasar || Pameran seni rupa kolektif bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” ini memamerkan 38 lukisan karya seni, yang digelar di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur dari tanggal 18 September hingga 31 Oktober 2026.Karya-karya lukisan tersebut memperlihatkan perjalanan kreatif para perupa seni yang tidak terpaku pada satu corak.

Tradisi, modernitas, abstraksi hingga seni patung hadir dalam satu ruang, menciptakan percakapan visual tentang bagaimana identitas seni Bali dapat terus berkembang.

Ketua Himpunan Perupa Payangan, Made Dolar Astawa mengatakan pameran ini menjadi salah satu tonggak penting bagi perjalanan komunitas perupa Payangan.

Menurutnya, jika sebelumnya para perupa melakukan eksplorasi ke dalam melalui filosofi Bayu-dep-Karma, pameran di Sanur menjadi momentum untuk melangkah keluar dan membuka ruang kreativitas yang lebih luas.

“Udhar Banda Karma merupakan upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami yang lebih terbuka,” ujar Made Dolar Astawa.

Dijelaskan, keberagaman 38 karya seni lukisan yang ditampilkan justru menjadi kekuatan Himpunan Perupa Payangan.

BACA JUGA:  Polwan Ditreskrimsus Dan Bhayangkari Daerah Kaltim Salurkan 300 Kilogram Gula Pasir Kepada Warga Sepinggan

Sebagian karya tetap menjaga karakter tradisi, sementara karya lainnya mempertemukan estetika tradisional dengan pendekatan modern hingga bergerak menuju abstraksi.

Pameran tersebut juga mendapat dukungan dari Wakil Bupati Gianyar, yang hadir membuka kegiatan, serta Santrian Art Gallery yang memberikan ruang bagi para perupa Payangan untuk memperluas jangkauan ekspresi mereka.

Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina, melihat perpindahan lokasi dari Payangan ke Sanur bukan sekadar perpindahan geografis sebagai sebuah “perpindahan epistemik”, yakni perpindahan dari ruang yang kuat dengan pakem tradisi menuju ruang dialog seni yang lebih terbuka.

Sanur memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai pengaruh seni. Dalam konteks itulah, para perupa Payangan hadir bukan semata-mata untuk mempertontonkan kemampuan teknis, tetapi membawa pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan akarnya?

Dalam konteks pameran, konsep tersebut diterjemahkan sebagai upaya membebaskan kreativitas dari keterikatan pakem yang terlalu kaku.

Tradisi tidak ditinggalkan. Sebaliknya, tradisi diposisikan sebagai fondasi yang memungkinkan seniman bergerak lebih jauh.

BACA JUGA:  Polres Pidie Gelar Anjangsana, Pererat Silaturahmi dengan Purnawirawan, Warakawuri dan Personel Sakit

Terlihat jelas dalam karya-karya yang dipamerkan pada kelompok pertama, masih terlihat karya yang kuat mempertahankan estetika klasik Payangan. Garis, detail, teknik dan karakter visual tradisional tetap menjadi bagian penting.

Namun, tradisi tersebut tidak semata-mata dihadirkan sebagai pengulangan. Sedangkan pada kelompok berikutnya, muncul karya yang mempertemukan karakter pewayangan, lanskap dan simbol-simbol Bali dengan pendekatan komposisi serta sapuan kuas yang lebih modern.

Kemudian, eksplorasi bergerak semakin jauh menuju dunia abstraksi. Bentuk-bentuk figuratif mulai dilepaskan dan digantikan oleh permainan warna, tekstur, energi serta emosi.

Di titik ini, pelepasan terhadap pakem bukan berarti pemutusan hubungan dengan akar budaya. Spiritualitas dan pengalaman Bali justru dicoba diterjemahkan melalui bahasa visual yang lebih bebas.

Eksplorasi juga hadir melalui seni patung. Kayu, batu hingga material lainnya tidak hanya diperlakukan untuk membentuk figur tradisional, tetapi dieksplorasi melalui bentuk, ruang, volume dan pendekatan yang lebih dinamis.

Keseluruhan karya akhirnya membentuk satu spektrum: dari tradisi yang dijaga, tradisi yang ditafsirkan ulang, hingga tradisi yang diterjemahkan ke dalam bahasa seni kontemporer.

BACA JUGA:  Sinergi TNI - Polri dan Damkar Tangani Kebakaran di Palmerah, Lima Rumah Terdampak

Owner Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA, menyambut pameran tersebut sebagai pertemuan antara dua karakter geografis dan kultural Bali—Payangan yang berada di kawasan pedalaman dan Sanur yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya.

Menurutnya, seni dapat menjadi jembatan yang mempertemukan keduanya. Merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi ruh pameran. Para perupa Payangan tidak sedang mempertentangkan tradisi dengan modernitas. Mereka justru memperlihatkan bahwa keduanya dapat berdialog dalam satu kanvas maupun karya tiga dimensi.

Pameran “Udhar Banda Karma” pada akhirnya bukan hanya tentang 38 karya seni lukisan saja. Ia menjadi catatan perjalanan sebuah komunitas ketika mulai berani keluar dari zona nyaman.

Dari Payangan ke Sanur, para perupa membawa tradisi sebagai akar, tetapi tidak menjadikannya sebagai rantai.

“Mereka mengurai belenggu, membuka ruang eksperimen dan mencoba melihat cakrawala baru seni rupa Bali—tanpa harus kehilangan identitas yang membentuk mereka,” tambah Gede Agung Sidharta Putra. (CVS)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *