Sementara itu, BNPB dan BPBD Kaltim turut menyampaikan kondisi terkini serta strategi penanggulangan bencana. Berdasarkan data BPBD Kaltim per 20 Agustus 2026, tercatat 1.004 titik hotspot dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Sepanjang tahun berjalan juga tercatat 397 kejadian karhutla dengan total luasan mencapai 985,80 hektare.

Peningkatan karhutla terlihat cukup signifikan pada Agustus 2026. Dari total kejadian sepanjang tahun, sebanyak 273 kejadian dengan luasan 752,82 hektare terjadi hanya pada periode Januari hingga Agustus, menunjukkan adanya eskalasi seiring meningkatnya kondisi kering pada musim kemarau.

Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian mengingat hasil pemantauan BMKG menunjukkan fenomena El Niño sangat kuat, yang menyebabkan massa udara yang melintasi wilayah Kalimantan cenderung lebih kering. Prakiraan curah hujan Dasarian III Agustus 2026 juga menunjukkan sebagian besar wilayah Kaltim berada pada kategori rendah, sehingga potensi terjadinya karhutla masih perlu diwaspadai.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, TNI juga menyiagakan ribuan personel beserta sarana dan prasarana pendukung untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Kekuatan tersebut didukung kendaraan pemadam, ambulans, kendaraan patroli, truk tangki air, peralatan kesehatan lapangan hingga perlengkapan pendukung lainnya yang ditempatkan di sejumlah wilayah rawan.

Selain penanganan di darat, upaya mitigasi juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya. Otorita IKN bersama unsur terkait menyiapkan pesawat Casa A-2105 dengan bahan semai natrium klorida (NaCl) sebanyak 8.000 kilogram untuk mendukung kegiatan cloud seeding. Pelaksanaan operasi disesuaikan dengan dinamika atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan teknis.

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol. Dr. Tedy Sopandi, S.I.K., M.Si., menyampaikan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja sama lintas sektor serta keterlibatan aktif masyarakat. Menurutnya, kepolisian tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga mengedepankan langkah pencegahan, edukasi, pemantauan, patroli hingga penegakan hukum.

“Polda Kaltim bersama TNI, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, BMKG, Otorita IKN dan seluruh stakeholder terus memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi karhutla. Pencegahan menjadi langkah utama, namun terhadap setiap pelanggaran yang menyebabkan kebakaran lahan, proses penegakan hukum akan tetap dilakukan secara tegas dan profesional,” ujar Kombes Pol. Dr. Tedy Sopandi.

Ia menambahkan, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah meluasnya karhutla, khususnya dengan tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Dengan kondisi cuaca yang cenderung kering akibat fenomena El Niño, kewaspadaan harus ditingkatkan. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menerapkan prinsip zero burning dan bersama-sama menjaga lingkungan agar potensi karhutla dapat ditekan,” tambahnya.