Banyuwangi, Suararepublik.com –
Gemuruh tepuk tangan ribuan penonton memenuhi arena pertunjukan saat SMPK Santo Yusup Banyuwangi sukses menggelar pentas seni kolosal bertajuk PARAKRAMAH (Sukma Sang Ksatria) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75, Sabtu (1/8/2026). Pertunjukan megah yang menjadi puncak rangkaian perayaan tersebut tidak hanya menyuguhkan hiburan berkualitas, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang pelestarian budaya, pembentukan karakter, serta pengamalan nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda.
Mengangkat kekayaan budaya Nusantara, khususnya budaya Blambangan, ratusan siswa tampil memukau melalui perpaduan drama kolosal, tari tradisional dan modern, teater musikal, tata cahaya artistik, serta alunan musik yang dikemas secara profesional. Seluruh rangkaian pertunjukan berlangsung penuh semangat dan berhasil membuat para tamu undangan, orang tua, alumni, serta masyarakat Banyuwangi larut dalam suasana yang sarat makna.
Tema PARAKRAMAH yang berarti Sukma Sang Ksatria menjadi simbol lahirnya generasi muda yang berani, berkarakter, menjunjung tinggi persatuan, menghargai keberagaman, serta memiliki kepedulian terhadap budaya bangsa. Nilai-nilai tersebut ditampilkan secara apik melalui setiap adegan yang menggambarkan semangat gotong royong, toleransi, keberanian, dan cinta tanah air sebagai implementasi nyata Profil Pelajar Pancasila.
Kemegahan pertunjukan semakin terasa berkat kolaborasi erat antara SMPK Santo Yusup Banyuwangi, SMAK Hikma Mandala Banyuwangi, para alumni, guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga ratusan siswa yang selama berbulan-bulan mempersiapkan seluruh konsep pertunjukan. Sinergi lintas generasi itu menjadi bukti bahwa pendidikan yang berkualitas lahir dari semangat kebersamaan dan kerja sama yang kuat.
Kepala SMPK Santo Yusup Banyuwangi, Romo David Morrison Marrus, M.Pd., M.Fil., menyampaikan bahwa usia 75 tahun merupakan perjalanan panjang yang penuh dedikasi dalam membangun pendidikan yang berkarakter. Menurutnya, kepercayaan masyarakat Banyuwangi selama tujuh dekade lebih merupakan amanah yang harus terus dijaga dengan menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Banyuwangi yang selama 75 tahun telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada SMPK Santo Yusup. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter, iman, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap budaya bangsa,” ungkap Romo David.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada SMAK Hikma Mandala Banyuwangi yang tahun ini memasuki usia ke-65. Menurutnya, kedua lembaga pendidikan tersebut terus berjalan beriringan dalam mencetak generasi yang cerdas, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Romo David menegaskan bahwa Ranjana Spectacle merupakan bukti nyata bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui seni, peserta didik belajar memimpin, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, menghargai perbedaan, bertanggung jawab, serta mengembangkan kreativitas yang kelak menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian penonton adalah saat Vivianne Vernetta Wangsa memerankan tokoh Hanum dengan penghayatan yang kuat. Berpasangan dengan Aldino Trisna Widjaya Raharjo sebagai Jayendra, keduanya berhasil membangun emosi penonton melalui kualitas akting yang natural dan penampilan vokal yang memukau. Beberapa kali tepuk tangan panjang menggema usai keduanya menyelesaikan adegan-adegan penting dalam drama musikal tersebut.
Di balik keberhasilan Vivianne, sosok sang kakak, Cherrie Callista Wangsa, menjadi inspirasi tersendiri. Kehadirannya yang selalu mendampingi selama proses latihan hingga pementasan menjadi bukti bahwa dukungan keluarga memiliki peran besar dalam membangun mental







