Oleh: Siluman Berhati Mulia
Suararepublik.com Medan 20/6/26 – Di tengah hiruk pikuk dunia jurnalistik yang selalu menggaungkan kebenaran dan keadilan, ada sebuah kisah yang membuat banyak orang bertanya-tanya: di mana solidaritas sesama wartawan ketika salah satu dari mereka sedang menghadapi cobaan hidup yang begitu berat?
Nama Leo Sembiring alias Leo Depari bukanlah nama asing di kalangan wartawan Kota Medan. Mantan wartawan Posmetro Medan yang kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Media Online Fradvy Indonesia itu dikenal sebagai sosok yang berani mengangkat berbagai persoalan masyarakat dan kerap menyoroti dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat.
Namun kini, orang yang selama ini menulis tentang penderitaan orang lain justru dikabarkan sedang menghadapi penderitaannya sendiri.
Menurut keterangan pihak keluarga, musibah itu bermula ketika toko ponsel milik mereka menjadi korban pencurian. Dua orang teknisi yang baru bekerja sekitar dua minggu diduga membongkar brankas usaha keluarga dan mengambil sejumlah barang serta deposit usaha.
Alih-alih mendapatkan rasa aman dan keadilan sebagai korban, keluarga justru mengaku harus menghadapi proses hukum yang berujung pada penetapan salah satu anggota keluarga sebagai tersangka dan Leo Sembiring masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Pihak keluarga menduga proses tersebut berkaitan dengan aktivitas jurnalistik Leo yang selama ini aktif memberitakan berbagai persoalan hukum dan mengkritisi kinerja aparat di wilayah Pancur Batu. Dugaan tersebut merupakan pandangan dari pihak keluarga dan belum memperoleh pembuktian melalui proses hukum.
Yang paling menyayat hati bukan hanya persoalan hukumnya.
Di balik semua itu ada seorang istri yang setiap hari harus menjawab pertanyaan anak-anaknya. Ada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar yang, menurut keluarga, harus menanggung ejekan dari teman-temannya karena mendengar ayah mereka disebut sebagai DPO.
Ada keluarga yang setiap hari hidup dalam kecemasan, kebingungan, dan ketidakpastian.
Ironisnya, di saat kondisi itu terjadi, banyak pihak menilai suara solidaritas dari sesama insan pers di Kota Medan justru nyaris tidak terdengar.
Padahal, selama bertahun-tahun Leo dikenal sebagai wartawan yang tidak segan turun membantu masyarakat kecil ketika menghadapi persoalan hukum. Ia sering hadir meliput aksi-aksi demonstrasi, menyuarakan keluhan warga, dan menulis berbagai pemberitaan yang dianggap mewakili suara mereka yang tidak memiliki kekuatan.
Kini, ketika ia dan keluarganya mengaku sedang menghadapi cobaan besar, muncul pertanyaan yang mengusik hati banyak orang.
Apakah seorang wartawan harus berjuang sendirian ketika dirinya sendiri membutuhkan dukungan?
Tentu tidak seorang pun kebal terhadap proses hukum. Semua orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum dan wajib menghormati setiap mekanisme yang berlaku.
Namun apabila memang terdapat dugaan ketidakadilan atau penyimpangan prosedur sebagaimana yang disampaikan pihak keluarga, maka sudah sepatutnya hal tersebut mendapat perhatian dan pengawasan dari lembaga yang berwenang agar seluruh proses berjalan secara profesional, objektif, transparan, dan sesuai dengan prinsip keadilan.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun.
Tulisan ini juga bukan untuk menyimpulkan benar atau salah sebelum adanya putusan hukum yang berkekuatan tetap.
Tulisan ini hanyalah sebuah pengingat bahwa di balik setiap perkara ada manusia, ada keluarga, ada istri yang menangis, ada anak-anak yang terluka oleh keadaan, dan ada seorang wartawan yang pernah memperjuangkan suara masyarakat, tetapi kini sedang memperjuangkan nasibnya sendiri.
Mungkin yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar keberanian untuk menulis berita.
Melainkan keberanian untuk menunjukkan empati, kepedulian, dan solidaritas kepada sesama.
Karena suatu hari nanti, tidak ada yang tahu siapa di antara kita yang akan berdiri di posisi yang sama, berharap ada tangan yang mau menggenggam dan berkata, “Kamu tidak berjuang sendirian.” (Tim)
