Beritarepublikviral//PADANG, — Di bawah atap Aula LKAAM Sumatera Barat, yang berdiri megah memeluk kompleks suci Masjid Raya Syekh Khatib Al-Minangkabawi, musik rebana pun bernyawa.
Jemarinya menari di atas kulit yang bergetar, memukulkan irama yang tak sekadar berdenting ke udara — ia meresap ke dalam nadi budaya, membisikkan syiar agama, dan merangkul jiwa-jiwa yang hadir dalam satu ikatan cinta.
Sabtu, 5 September 2026, menjadi saksi: dua kekuatan luhur, Adat dan Syarak, bersatu dalam alunan pukulan yang saling menjalin harmoni.
Gubernur Sumatera Barat menitipkan penghargaan yang mendalam atas pelaksanaan Festival Rebana se-Kota Padang yang digelar penuh bakti oleh Komunitas Bintang Ceria (KBCE). Pembukaan resmi dipercayakan kepada Drs. Jasman Rizal, MM — Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik — yang hadir membawa pesan: irama rebana bukan sekadar bunyi, ia adalah warisan yang berbicara.
Dua belas gugusan harapan hadir di sini — 12 grup rebana terbaik dari segenap penjuru Kota Padang. Masing-masing diisi delapan jiwa yang mengenakan busana adat Minangkabau sepenuh keanggunannya.
Langkah mereka di panggung tak sekadar menapak lantai, melainkan menginjak jejak leluhur. Bunyi pukulan mereka bukan sekadar menggema di ruangan, melainkan membangunkan ingatan generasi muda akan akar dan identitasnya. Bank Nagari hadir sebagai sahabat setia di balik layar, menabur dukungan dan menyusun hadiah bagi mereka yang kelak namanya terukir di panggung kemenangan.
“Waktu berjalan begitu singkat, namun kebersamaan menjadikannya cukup,” tutur Fahyu Yeretti, Ketua Panitia, dengan mata yang bersinar syukur.
“Di bawah payung dukungan Bank Nagari, para tokoh masyarakat dan kerja keras segenap panitia, Alhamdulillah — dua belas bintang hari ini siap menyuguhkan cahaya terbaiknya. Kami berjanji: kaca penilaian kami bening tanpa bayang-bayang kepalsuan; adil, jujur, dan terang benderang hingga ke sudut-sudut hati.”
Dalam pesan Gubernur yang disampaikan Jasman Rizal, terselip makna mendalam: “Rebana bukan sekadar perlombaan yang menentukan pemenang dan yang belum.”
Ia adalah penjaga pintu warisan, jembatan silaturahmi yang tak pernah putus, serta benih-benih kasih Islam yang ditanamkan ke dalam dada putra-putri Minang agar tak layu diterpa angin zaman. “Seni Rebana bernapaskan Islam seperti ini harus terus diberi ruang bernapas. Ia menjaga budaya sekaligus menanamkan iman ke sanubari generasi muda,” tegasnya.
Wali Kota Padang pun tak luput mengangkat jempol. Lewat Syahrial Kamat, Staf Ahli Wali Kota, disampaikan sanjungan tulus: KBCE bagaikan lentera yang tak lelah menyala, memberi tempat bagi bakat muda untuk tumbuh di taman seni yang suci.
“Kegiatan inilah benteng kokoh yang melindungi jiwa-jiwa muda dari gelombang zaman,” ucapnya.
Pemko Padang berjanji: pintu kreativitas seni Islam akan tetap terbuka lebar — agar masyarakat tumbuh berbudaya sekaligus bertakwa.

Sementara itu, pintu LKAAM Sumatera Barat tak pernah tertutup bagi kegiatan suci semacam ini. Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si. Dt. Sati, Ketua Umum LKAAM Sumbar, menyambut hangat denting rebana yang menggema di aulanya.
“Filosofi hidup kita tak lain adalah: Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah. Dan hari ini, adanya festival rebana membuktikannya — adat bersuara, syarak terjaga, keduanya berjalan bergandengan tangan menuju masa depan yang terang.”
🏆 CAHAYA REBANA NANGGALO: SATU IRAMA, SATU HATI, JUARA SATU

Di antara dua belas peserta yang bersaing memancarkan keindahan, Cahaya Rebana Kecamatan Nanggalo menyusun irama paling memukau. Di bawah pimpinan setia Sri Mustika Yuza dan Yumarza Lora, setiap pukulan gendang mereka menyatu bagai satu jantung yang berdetak lurus.
Dewan juri pun terpukau — bukan semata oleh kepiawaian tangan mereka, melainkan oleh keselarasan jiwa yang tak terpisahkan. Nama mereka pun terangkat tinggi: JUARA SATU FESTIVAL REBANA KBCE SE-KOTA PADANG!
Sambutlah kebahagiaan Kecamatan Nanggalo — kabar ini merambat dari rumah ke rumah, senyum merekah di wajah warga.
Darman MTC, sang Pembina, menumpahkan rasa syukur yang membanjir bahagia. “Kemenangan ini tak lahir semalam suntuk dari keberuntungan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ia adalah peluh yang menetes perlahan, latihan yang tak kenal lelah, kedisiplinan yang menjaga langkah, serta kekompakan yang melebur menjadi satu jiwa. Sri Mustika dan Yumarza — kalian memegang kemudi dengan tangan dingin namun teguh, membawa kapal kami menuju pantai kemenangan.”
Namun Darman tak ingin angin keberhasilan membuat mereka terlena. “Biarlah piala ini bukan tempat berlabuh terakhir, melainkan tiang penopang agar terus berlayar makin jauh. Jagalah irama, jagalah persaudaraan, jagalah rebana agar terus bernyawa di tangan anak cucu nanti.”
Harapan yang mengalir dari bibirnya jernih bagai sungai: semoga panggung serupa terus dihadirkan, semoga makin banyak hati generasi muda jatuh cinta pada musik rebana — bukan sekadar memainkannya, melainkan menghidupkannya dalam sanubari. Karena di balik kayu dan kulit rebana, tersimpan jiwa peradaban yang tak boleh mati.
Semoga rebana terus berdetak, selama ada napas di dada dan cinta di hati.(Laporan: Tb. Mhd Arief Hendrawan)






