Suara Republik.com
Jakarta, Jum,at, 16 Oktober – SMP Negeri 82 Jakarta Barat kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peduli terhadap kelestarian lingkungan. Melalui program kokurikuler bertajuk “Hidup Hemat dan Produktif dari Daur Ulang”, sekolah ini berhasil mengubah stigma negatif mengenai limbah menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai estetika tinggi serta potensi ekonomis.
Kegiatan yang melibatkan seluruh siswa dari kelas 7 hingga kelas 9 ini berlangsung meriah. Puncak acara ditandai dengan parade keliling lapangan, di mana setiap kelas memamerkan hasil karya daur ulang mereka dengan penuh kebanggaan di hadapan para guru sekolah.
Kepala SMPN 82 Jakarta, Rr.Padma Dewi Susilawati, M.Pd, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas antusiasme dan kerja keras seluruh siswa. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa program ini telah mencapai target yang diharapkan, yakni membentuk karakter siswa yang inovatif dan bertanggung jawab.
“Alhamdulillah, rangkaian kegiatan kokurikuler ini telah berjalan lancar dan menghasilkan produk-produk karya siswa yang luar biasa. Ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan bukti nyata bahwa siswa kami mampu berinovasi,” ujar Ibu Dewi.
Ia menambahkan, kegiatan ini mengajarkan filosofi penting bahwa tidak ada sampah yang benar-benar sia-sia jika dikelola dengan kreativitas dan niat baik. “Terima kasih kepada para guru pembimbing dan siswa yang telah bekerja keras mengubah barang bekas menjadi aset berharga,” tambahnya.
Program ini dirancang secara spesifik menyesuaikan tingkat kemampuan siswa, sehingga menghasilkan variasi produk yang unik untuk setiap jenjang kelas 7, 8, 9:
* Kelas 7: Eksplorasi material alami dan sintetis siswa kelas 7 diajak untuk lebih peka terhadap material di sekitar mereka. Mereka memproduksi gantungan kunci unik berbahan dasar clay (tanah liat sintetis). Selain itu, mereka juga memperkenalkan teknik ecoprint pada tote bag, menggunakan motif daun dan bunga alami untuk pewarnaan yang ramah lingkungan dan sangat estetis selain tote bag ada taplak juga.
* Kelas 8: Transformasi limbah plastik menjadi aksesoris fashion dengan semboyan “Kecil langkahnya, Besar dampaknya”, fokus utama siswa kelas 8 adalah pengolahan limbah plastik rumah tangga. Mereka berhasil membuat lilin aromaterapi dengan wadah daur ulang serta merancang gelang resin dari bekas kemasan makanan. Hasilnya berupa aksesoris fashion warna-warni yang membuktikan bahwa sampah plastik pun bisa disulap menjadi barang yang diminati pasar.
* Kelas 9: Seni Kinusaiga dan Resin Modern sebagai siswa tingkat akhir, kelas 9 menampilkan karya yang lebih kompleks dan bernilai seni tinggi. Mereka mempraktikkan Kinusaiga, seni mosaik tradisional Jepang menggunakan potongan kain perca bekas jahitan untuk menggambarkan pemandangan alam yang menenangkan. Tak kalah menarik, mereka juga memproduksi gantungan kunci modern dari campuran tutup botol dan resin berwarna-warni.
Edukasi Melampaui Produk Fisik
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari barang jadi yang dihasilkan, tetapi juga dari penyebaran informasi edukasi. Siswa turut berkontribusi aktif dalam pembuatan Mading Interaktif bertema “Daur Ulang Jaga Bumi Kita” yang berisi tips hidup hemat. Selain itu, diluncurkan pula Flip Book berjudul “Langkah Kecil untuk Bumi Besar”, sebuah buku interaktif yang memuat cerita inspiratif dan panduan praktis menjaga lingkungan.
Program kokurikuler SMPN 82 ini berdiri di atas tiga pilar utama pendidikan lingkungan:
1. Berpikir Kreatif: Mengasah imajinasi melihat potensi tersembunyi barang bekas.
2. Berkarya Nyata: Menghasilkan produk fungsional, estetis, dan bernilai jual.
3. Jaga Lingkungan: Menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.
Dengan semangat “Kreatif Mengolah Limbah, Jadi Karya Berkualitas. Kecil Langkahnya, Besar Dampaknya,” SMPN 82 Jakarta Barat membuktikan bahwa pendidikan lingkungan dapat disajikan secara menyenangkan dan aplikatif. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam kurikulum sehari-hari.
(Irpan)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.