Kedua sesi tersebut mampu menghadirkan ruang aman bagi peserta untuk berekspresi, mendengarkan, dan saling menguatkan, baik secara individu maupun dalam kelompok kecil. Peserta diajak membangun afirmasi positif sekaligus memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Keberanian untuk berbicara dan kesediaan untuk mendengar menjadi fondasi penting dalam penanganan isu kesehatan mental.

Secara umum, kegiatan memperoleh tanggapan positif baik dari peserta maupun fasilitator. Salah seorang peserta, Denka, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dan memberi ruang untuk berefleksi. “Kita bisa refleksi diri kita untuk mempunyai kesehatan mental yang lebih baik. Kita tidak sendirian” ujarnya. Semangat untuk terus membuka ruang tentang kesehatan mental juga disampaikan Nelden Djakababa-Gericke selaku fasilitator. “Semoga ini menjadi awal untuk kita terus melanjutkan pembicangan mengenai kesehatan mental. Ini merupakan sesuatu yang bisa dilakukan secara berkelanjutan” tuturnya.

Acara diikuti oleh sekitar 40 orang yang berasal dari sejumlah kota di Jerman dan Belanda. Mereka hadir dengan cerita dan pengalaman masing-masing namun terhubung satu pesan sederhana bahwa kita tidak sendirian.

Sejalan dengan semangat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, KJRI Hamburg mengajak masyarakat Indonesia di Jerman untuk terus menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan mental, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Rekat bersama merawat jiwa, karena menjaga kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama. Keberanian untuk berbicara, mendengar dan didengar menjadi penguat atas tantangan yang dihadapi di tanah rantau.

Fungsi Protokoler dan Konsuler
Konsulat Jenderal Republik Indonesia Hamburg
konsuler@kjrihamburg.de

(Irpan)