BeritaRepublikViral // PADANG, — Langit di atas Bumi Minangkabau tampak meneduhkan siang itu, seolah alam pun ikut menata diri menyambut sebuah pertemuan yang penuh makna. Tepat pada hari Selasa, 13 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB, pintu Kantor LKAAM Sumatera Barat Jl.KH.Ahmad Dahlan no.17 Alai Parak Kopi kota Padang Utara terbuka lebar, menyambut para penjaga marwah adat yang datang memikul amanah dari nagari-nagari seantero ranah Minang.
Ruang rapat yang sederhana itu seakan menyambut kehadiran mereka dengan hangat, kursi-kursi berjejer rapi bagai sanak saudara yang lama tak bersua, dan detak waktu sejenak melambun — memberi ruang bagi kebersamaan yang berharga ini.
Dua puluh lebih tokoh adat dari seantero Sumatera Barat hadir memenuhi ruangan itu. Mereka datang membawa suara nagari, membawa harapan masyarakat yang menanti di kampung halaman.
Di antara jajaran pimpinan pusat yang hadir ialah Prof. Dr. Fauzi Bahar, M.Si. Dt. Sati, Ketua Umum LKAAM Sumatera Barat, yang memimpin jalannya pertemuan. Turut hadir pula jajaran pimpinan lainnya: Dr. H. Budiman Dt. Malano Garang, S.Ag., MM. selaku Wakil Ketua III, dan M. Natsir Dt. Sampono Batuah sebagai Wakil Sekretaris.
Pena-pena bergerak di atas lembar daftar hadir, tanda tangan yang mengalir di sana bukan sekadar nama yang tercatat, melainkan janji kesetiaan kepada adat yang diemban di pundak masing-masing — bagai anak-anak sungai yang dari beragam arah akhirnya menyatu menuju muara yang sama.
📌 Langkah Pertama: Meneguhkan Kembali Rumah Adat
Agenda pertama menyentuh langsung denyut nadi keberlangsungan lembaga adat: penetapan pelaksana tugas untuk sejumlah LKAAM Kabupaten dan Kota yang masa baktinya telah selesai.
Rumah-rumah adat di nagari yang nahkodanya telah menyelesaikan pengabdiannya, kini disambut tangan-tangan baru yang siap memegang kemudi.
Musyawarah siang itu hadir bagai lentera yang dinyalakan kembali di tengah malam — agar perahu adat senantiasa tegak lurus, tak oleng diterpa arus zaman, dan senantiasa membawa amanah masyarakat ke tepian yang lebih cerah.
🚩 Langkah Kedua: Marawa Berbicara Tanpa Suara
Agenda kedua menyentuh jiwa kebudayaan Minangkabau itu sendiri: pembahasan tentang Marawa, Bendera Alam Minangkabau. Tiga warnanya — hitam yang teguh, kuning yang luhur, dan merah yang berani — seakan hadir di tengah ruangan, menyimak dengan senyap namun penuh getar hati.
Di sana, para anak negeri berbicara tentang jati diri mereka, tentang lambang yang tak pernah bersuara namun mampu menyatukan ribuan hati.
Gagasan-gagasan tumbuh dan saling berbagi, bagai tunas yang disiram embun pagi, menumbuhkan pemahaman yang semakin luas tentang kedudukan dan fungsi Marawa di tengah kehidupan masyarakat masa kini.
🤝 Hadir Membawa Amanah, Pulang Membawa Harapan
Pertemuan ini dihadiri oleh para pemimpin adat dari berbagai daerah di Sumatera Barat, yaitu:
1. Prof. Dr. Fauzi Bahar, M.Si. Dt. Sati — Ketua Umum LKAAM Sumatera Barat
2. Puti Reno Raudha Thaib — Pimpinan Pusat Perkumpulan Bundo Kanduang
3. Jasman Rizal Dt. Bandaro Bandang — Sekretaris Umum LKAAM Sumatera Barat
4. H.M. Rusli — Ketua LKAAM Kota Solok
5. Syafrizal Ucok Dt. Nan Batuah — Wakil Ketua Umum I LKAAM Sumatera Barat
6. Raflidon Dt. Kayo — Wakil Ketua Umum LKAAM Sumatera Barat
7. Dr. Amril Amir, M.Pd. Dt. Lelo Basa — Ketua Harian LKAAM Sumatera Barat
8. Arfa Kasni, MS, SP, MMP, C.Med. Dt. Tumanggung — Sekretaris LKAAM Sumatera Barat
9. A.K.J. Dt. Bandaro Panjang — LKAAM Padang Pariaman
10. Zainal Efendi, S.Ag. Dt. Gindo Samajo — Ketua LKAAM Dharmasraya
11. Sidi Priyadi, S.Sos., M.Pd. — LKAAM Kota Pariaman
12. Misral, SH Dt. Rajo Batuah — Sekretaris Umum LKAAM Sumatera Barat
13. Pensuri, S.AP. Dt. Tambosau — Sekretaris LKAAM Dharmasraya
14. H. Junaidi, MH Dt. Gampo Alam — Ketua LKAAM Kabupaten Agam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.