Beritarepublikviral // PADANG, — Bumi Ranah Minang hari ini seakan menahan napas dalam haru yang agung. Senin, 19 Oktober 2026, tepat pukul 13.00 siang, di Aula LKAAM Sumatera Barat Jl.KH.Ahmad Dahlan No.17 Alai Parak Kopi, kota Padang, bukan sekadar sebuah ruangan yang berdiri di antara tembok dan atap — ia berubah menjadi panggung suci, di mana jiwa budaya Minangkabau kembali berdetak kencang dan bernyawa.

Musyawarah Besar (Mubes) I Bundo Kanduang Tuah Sakato Ranah Minang yang dihadiri 159 orang peserta resmi mengukir sejarah baru di tengah perjalanan panjang leluhur kita.

Pertemuan ini bukan sekadar agenda di kalender, melainkan sebuah panggilan hati yang menggema dari ujung Muaro hingga ke puncak Kerinci: adat kita sedang memanggil anak-anaknya pulang.

Dengan tema yang menjadi ruh sepanjang acara: “Badayuang Basamo Bundo Kanduang dan LKAAM dalam Manjago, Mamakai, Malestarikan, dan Mawariskan Keluhuran Nilai-Nilai Adaik Minangkabau”.

Satu pesan tegas terkirim ke seluruh penjuru nagari: adat istiadat bukan peninggalan masa lalu yang hanya layak disimpan dalam lemari kenangan. Ia adalah napas kehidupan yang harus terus dijaga, dipraktikkan, dihidupkan, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Acara dibuka dengan keagungan yang menenangkan jiwa. Gema wahyu ilahi yang dibawakan oleh Sri Aswati dan disusun dengan lantunan Sari Tilawah oleh Yanti Tanjung, seakan membuka langit-langit aula, membiarkan cahaya illahi menyelimuti setiap sudut ruangan.

Ayat-ayat suci itu tak sekadar dibaca — mereka hidup dan berbicara, mengingatkan hadirin bahwa tiada kekuatan yang abadi kecuali yang berpijak pada kebenaran ilahi. Inilah fondasi pertama tempat adat kita berpijak: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Kemudian, keheningan yang khidmat perlahan terisi oleh semangat yang membara. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, menggetarkan dada setiap jiwa yang hadir — pengingat bahwa di atas segala perbedaan adat dan suku, kita adalah satu bangsa yang merdeka.

Tak lama berselang, nada hymne Mars Bundo Kanduang yang mengalun lembut namun tegas, bagai suara ibu yang memanggil anak-anak pulang ke pelukan budaya sendiri. Lagu itu bukan sekadar syair yang dinyanyikan — ia adalah janji setia para ibu adat untuk senantiasa menjadi penyangga keutuhan nagari, tempat kembali ketika dunia terasa asing.

Satu per satu, kata-kata hikmah terangkai di pentas. Ketua Pelaksana, Hj. Rasmanetti, S.Sos, memaparkan perjalanan panjang persiapan yang tak sekadar menyusun jadwal, melainkan menyatukan hati-hati yang tersebar di seantero Sumatera Barat. Beliau hadir membawa pesan bahwa keberhasilan pertemuan ini tidak diukur dari seberapa tebal dokumen yang dihasilkan, melainkan dari seberapa tulus langkah kita berjalan pulang ke tengah masyarakat setelah ini selesai.


Kemudian, Pembina Bundo Kanduang Tuah Sakato, Arfa Kasni, MS, SP, MMP, C.Med., Dt. Tumangguang, berbicara dengan ketegasan yang lembut namun menusuk kalbu. Beliau mengingatkan: “Bundo Kanduang bukan sekadar gelar yang disandang — ia adalah amanah yang memanggil wanita Minang untuk menjadi tiang penyangga di setiap rumah, di setiap nagari.

Di tangan Bundo Kanduang, adat menemukan kelembutan yang menyeimbangkan ketegasan kaum laki-laki. Tanpa peran ibu yang bijaksana, bangunan adat akan rapuh di dalamnya meski temboknya tegak di luar.”


Puncak acara sekaligus pembuka Musyawarah Besar I ini disampaikan oleh Ketua Umum LKAAM Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si., Datuak Sati. Dalam arahannya yang mendalam, beliau menegaskan bahwa “LKAAM dan Bundo Kanduang bagai dua sayap pada satu tubuh burung Garuda — tak dapat terpisahkan jika ingin budaya ini terus terbang tinggi menembus awan zaman. Menjaga adat bukan berarti menutup pintu peradaban; justru sebaliknya, kita memegang teguh jati diri agar ketika berjalan ke mana pun, kita tidak kehilangan arah pulang.”

“Empat kata kunci menjadi kompas arah pertemuan ini: Manjago — menjaga agar adat tak ternoda oleh arus yang tak sejalan; Mamakai — menghidupkannya dalam keseharian, bukan sekadar saat upacara besar saja; Malestarikan — memastikan ia tak punah ditelan masa; dan Mawariskan — menyiapkan tangan-tangan muda yang siap meneruskan amanah ini dengan hati yang murni,”ujar Fauzi Bahar Dt.Sati

Musyawarah Besar I ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari langkah nyata yang lebih luas. Di sini, di Aula LKAAM Sumatera Barat, telah lahir satu tekad bulat: Bundo Kanduang Tuah Sakato Ranah Minang dan LKAAM Sumbar berjalan beriringan, seia sekata, bagai cahaya dan pelita — saling menguatkan dalam satu tujuan mulia, menjaga keluhuran budaya ini tetap bersinar terang, dari generasi ke generasi.

“Dengan diselenggarakannya Bundo Kanduang Tuah Sakato Ranah Minang, semoga langkah ini senantiasa dalam lindungan Yang Maha Agung,” pesan Fauzi Bahar Dt.Sati mengakhiri sambutannya.(Tb Mhd Arief Hendrawan)