Di tangan Bundo Kanduang, adat menemukan kelembutan yang menyeimbangkan ketegasan kaum laki-laki. Tanpa peran ibu yang bijaksana, bangunan adat akan rapuh di dalamnya meski temboknya tegak di luar.”
Puncak acara sekaligus pembuka Musyawarah Besar I ini disampaikan oleh Ketua Umum LKAAM Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si., Datuak Sati. Dalam arahannya yang mendalam, beliau menegaskan bahwa “LKAAM dan Bundo Kanduang bagai dua sayap pada satu tubuh burung Garuda — tak dapat terpisahkan jika ingin budaya ini terus terbang tinggi menembus awan zaman. Menjaga adat bukan berarti menutup pintu peradaban; justru sebaliknya, kita memegang teguh jati diri agar ketika berjalan ke mana pun, kita tidak kehilangan arah pulang.”
“Empat kata kunci menjadi kompas arah pertemuan ini: Manjago — menjaga agar adat tak ternoda oleh arus yang tak sejalan; Mamakai — menghidupkannya dalam keseharian, bukan sekadar saat upacara besar saja; Malestarikan — memastikan ia tak punah ditelan masa; dan Mawariskan — menyiapkan tangan-tangan muda yang siap meneruskan amanah ini dengan hati yang murni,”ujar Fauzi Bahar Dt.Sati
Musyawarah Besar I ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari langkah nyata yang lebih luas. Di sini, di Aula LKAAM Sumatera Barat, telah lahir satu tekad bulat: Bundo Kanduang Tuah Sakato Ranah Minang dan LKAAM Sumbar berjalan beriringan, seia sekata, bagai cahaya dan pelita — saling menguatkan dalam satu tujuan mulia, menjaga keluhuran budaya ini tetap bersinar terang, dari generasi ke generasi.
“Dengan diselenggarakannya Bundo Kanduang Tuah Sakato Ranah Minang, semoga langkah ini senantiasa dalam lindungan Yang Maha Agung,” pesan Fauzi Bahar Dt.Sati mengakhiri sambutannya.(Tb Mhd Arief Hendrawan)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.