Berita

Global Ethics Forum 2026 Resmi Diluncurkan di Indonesia, Angkat Tema “Perusahaan Tumbuh Lebih Cepat, Tapi Untuk Siapa?”

Suara Republik.com: Irpan

JAKARTA – Global Ethics Forum (GEF) 2026 hari ini, 9 September 2026, resmi meluncurkan kemitraan dengan sepuluh organisasi Indonesia dari berbagai sektor. Langkah ini menandai persiapan menuju misi Forum untuk membuka ruang dialog dan kolaborasi lintas sektor tentang jalan etis menuju masa depan yang lebih inklusif, damai, dan berkelanjutan.

Diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) bersama Globethics, GEF 2026 akan berlangsung di Sanur, Bali, pada 20–22 Oktober 2026. Acara ini mengusung tema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy”. Ini merupakan kali pertama Forum diadakan di Asia Timur dan Pasifik, dengan Indonesia sebagai negara tuan rumah.

Kemitraan Lintas Sektor
Kesepuluh mitra yang terlibat dalam forum ini meliputi PPM Manajemen, CNN Indonesia, National Geographic Indonesia, TribunNetwork, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, UNESCO Office Jakarta, Rotary Sentul Peace Club Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Hindu Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada. Bersama-sama, mereka menghadirkan kapasitas riset, jangkauan komunikasi, pengalaman sektor swasta, serta jaringan komunitas bagi Forum.

Forum ini hadir di tengah masyarakat yang menghadapi fragmentasi meluas di bidang geopolitik, ekonomi, sosial, teknologi, dan lingkungan. GEF 2026 hendak menelusuri bagaimana etika dapat membentuk pendekatan yang lebih bertanggung jawab dalam tata kelola, kepemimpinan, inovasi, dan pembangunan.

Temuan Riset: Kesenjangan Integritas Organisasi
Peluncuran kemitraan sekaligus menjadi momen memaparkan temuan riset terbaru PPM Manajemen tentang integritas organisasi. Riset yang melibatkan 282 responden pada 173 organisasi di lebih dari 20 sektor ini menunjukkan jarak antara komitmen etika yang dinyatakan organisasi dan kondisi kerja yang sebenarnya dialami orang.

Hasil riset menemukan bahwa 56,3 persen karyawan menilai mekanisme pelaporan sudah tersedia di tempat kerja mereka, tetapi hanya sekitar 55 sampai 60 persen merasa cukup aman menggunakannya. Kesenjangan ini lebih besar lagi pada tingkat sistem: 98,6 persen karyawan menempatkan kejujuran sebagai nilai inti, sementara hanya 15,8 persen organisasi tempat mereka bekerja memiliki sistem antikorupsi terstandar.

Aries Heru Prasetyo, PhD, Head of Corporate Strategy and Value Creation, PPM Manajemen, menyatakan, “Sebuah organisasi tidak bisa meminta orang berperilaku etis tanpa melihat kondisi tempat mereka diminta bekerja. Riset kami menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan sangat berpengaruh pada bagaimana pekerjaan dirancang, dan rancangan kerja itulah yang menentukan apakah orang bisa tumbuh di dalamnya.”

Menempatkan Manusia di Tengah Ambisi Organisasi
Bagi Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, Wakil Presiden Globethics sekaligus pendiri YADEMA, gagasan human flourishing menantang ukuran keberhasilan ekonomi dan organisasi yang selama ini lazim dipakai.

“Human flourishing bukan semata soal pertumbuhan ekonomi atau kesejahteraan individu. Ia soal menciptakan kondisi ketika manusia, komunitas, dan alam dapat berkembang bersama,” ujar Dicky Sofjan.

Menurut kedua narasumber, human flourishing di tempat kerja bukan sekadar soal memenuhi tuntutan kepatuhan, melainkan soal menciptakan organisasi tempat orang dapat berkontribusi, berkembang, berani bersuara, dan bertumbuh. Karena itulah kemitraan menjadi inti GEF 2026. Tantangan yang dihadapi masyarakat hari ini tidak dapat dijawab oleh satu lembaga atau satu sektor sendirian.

Percakapan mengenai prinsip etika yang diterjemahkan menjadi keputusan dan organisasi yang lebih bertanggung jawab dimulai hari ini di Jakarta dan akan berlanjut di Bali pada 20–22 Oktober 2026.

Tentang Penyelenggara
Global Ethics Forum adalah platform global lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan untuk dialog, jejaring, dan keterlibatan, yang diselenggarakan oleh Globethics. Sementara itu, Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) adalah yayasan Indonesia yang didirikan berdasarkan pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0017074.AH.01.04 Tahun 2023, dan merupakan tuan rumah lokal GEF 2026.

PPM Manajemen, sebagai Knowledge Partner, turut berkontribusi melalui temuan riset mengenai etika, budaya antikorupsi, dan organisasi yang berpusat pada manusia. Institusi manajemen ini telah berkontribusi dalam pengembangan ilmu dan praktik manajemen di Indonesia sejak 1967.

Exit mobile version