Berita

Proyek Drainase Walang Timur Disorot Positif, Kontraktor dan Warga Bangun Sinergi

Suara Republik.com

JAKARTA UTARA – Proyek peningkatan kapasitas saluran drainase sepanjang 1.100 meter di Jalan Walang Timur, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, terus menunjukkan progres yang positif. Selain mengedepankan aspek teknis konstruksi, proyek ini juga dinilai sukses membangun komunikasi yang kondusif dengan masyarakat setempat.

Pada Sabtu (8/8/2026), suasana di lokasi proyek terlihat tertib dan terorganisir. Kehadiran infrastruktur baru ini diharapkan menjadi solusi tuntas bagi persoalan genangan air yang selama ini kerap meresahkan warga di kawasan tersebut.

Pelaksanaan proyek yang ditangani oleh kontraktor PT Dovlen Seventy, dengan pengawasan ketat dari PT Han Hin Mugi, mendapat apresiasi karena transparansi dan koordinasi yang terjalin baik. Kolaborasi antara pelaksana, pengawas, dan lingkungan sekitar dianggap kunci agar pekerjaan infrastruktur tidak hanya memenuhi standar teknis, tetapi juga berjalan tanpa gesekan sosial.

Kepatuhan SOP dan Koordinasi Utilitas

Wildan, perwakilan PT Dovlen Seventy di lapangan, menegaskan bahwa setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA). Salah satu prioritas utama adalah memastikan keamanan utilitas bawah tanah.

“Mulai dari Pre-Construction Meeting (PCM), hingga koordinasi intensif dengan pemilik utilitas seperti PAM, PLN, dan Telkom, semuanya terdokumentasi dengan rapi. Kami memastikan tidak ada kabel atau pipa yang terganggu selama proses penggalian,” ujar Wildan.

Pengawasan Berbasis Komunikasi

Tim pengawas dari PT Han Hin Mugi turut memainkan peran vital dalam menjaga kualitas dan hubungan sosial. Pak Agus, salah satu pengawas lapangan, menekankan bahwa pendekatan kepada warga sama pentingnya dengan kualitas material.

“Fokus kami bukan hanya pada beton dan besi, tapi juga pada hati warga. Sosialisasi ke RT/RW adalah bagian integral dari tugas kami. Jika warga paham, mereka akan mendukung, bukan menolak,” katanya.

Hal serupa disampaikan oleh Bu Panca dari tim pengawas. Ia menjelaskan bahwa mekanisme perbaikan dilakukan secara instan untuk menjaga kualitas akhir. “Setiap temuan minor di lapangan langsung kami koordinasikan dengan kontraktor untuk perbaikan instan. Hasil akhir harus prima bagi pemerintah dan nyaman bagi warga,” ujarnya.

Verifikasi Lapangan Atasi Isu Media Sosial

Di tengah berlangsungnya pekerjaan, sempat beredar sejumlah informasi dan sorotan di media sosial terkait pelaksanaan proyek. Merespons hal tersebut, M. Hutabarat, seorang pengamat independen sekaligus perwakilan masyarakat, melakukan peninjauan langsung ke lokasi.

Setelah melihat kondisi di lapangan, Hutabarat mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar.

“Saya datang mewakili aspirasi warga untuk melihat sendiri. Faktanya, pekerjaan sangat baik dan sesuai standar. Ada isu viral soal pemasangan fasilitas tertentu, namun setelah saya cek, itu sudah diperbaiki kontraktor sesuai arahan pengawas. Itu bukti akuntabilitas, bukan kelalaian,” ungkap Hutabarat.

Ia menambahkan, sinergi antara PT Dovlen Seventy, PT Han Hin Mugi, dan warga telah terjalin dengan baik sehingga warga merasa didengar. “Jangan mudah termakan hoaks. Di sini, sinergi antara kontraktor, pengawas, dan warga terjalin. Warga merasa didengar,” tambahnya.

Target Penyelesaian September 2026

Bagi masyarakat Kelurahan Tugu Utara, proyek ini membawa harapan besar untuk mengurangi potensi genangan dan meningkatkan kenyamanan lingkungan. Dukungan penuh dari warga menjadi faktor pendukung kelancaran proyek hingga tahap akhir.

Pelaksana proyek menargetkan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sebelum batas akhir kontrak pada 30 September 2026. “Kami berkomitmen menyelesaikan pekerjaan dengan rapi, cepat, dan bersih,” tutup Hutabarat.

Proyek drainase di Jalan Walang Timur ini membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak sekadar soal fisik, melainkan juga tentang kolaborasi. Dengan komunikasi yang terbuka dan transparan, proyek yang berpotensi mengganggu aktivitas warga justru berubah menjadi ruang kerja sama untuk mewujudkan lingkungan yang lebih layak huni.

(Red/tim)

Exit mobile version