SUARAREPUBLIK.COM # Mangupura – Bali || Pantia lokal Nasional Bible Camp(NBC) III 2026 Perkumpulan Senior GMKI(PS GMKI)melakukan audiensi ke Sinode Gereja Kristen Protestan Di Bali(GKPB) dalam rangka persiapan menyambut 200 peserta dari seluruh tanah air di Gedung Sinode GKPB pada selasa, 21 Juli 2026 yang disambut hangat oleh pimpinan Majelis Pekerja Harian(MPH) Sinode GKPB.
Dalam pertemuan tersebut, Pontas Simamora menyampaikan apresiasi atas sambutan Sinode GKPB sekaligus memaparkan kesiapan pelaksanaan NBC III yang dijadwalkan berlangsung pada 22–25 Agustus 2026 di Desa Blimbingsari, Kabupaten Jembrana.
“Terima kasih atas kesediaan MPH Sinode GKPB menerima kami. Kehadiran kami merupakan bagian dari koordinasi persiapan NBC III yang akan mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Indonesia,” ucapnya
Menurutnya, NBC III merupakan agenda nasional rutin PS GMKI yang sebelumnya telah diselenggarakan di Yogyakarta dan Palangka Raya. Tahun ini, Bali dipilih sebagai tuan rumah dengan Desa Blimbingsari sebagai pusat kegiatan.
Pemilihan Blimbingsari bukan tanpa alasan. Bagi Senior GMKI, desa tersebut menyimpan nilai historis sekaligus sosial yang relevan dengan semangat kegiatan. Selain dikenal sebagai desa dengan mayoritas penduduk Kristen di Pulau Bali, Blimbingsari juga memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Kekristenan di Bali serta menjadi contoh keberhasilan masyarakat membangun desa melalui kolaborasi antara kehidupan bergereja, budaya Bali, dan pariwisata.
“Pertemuan ini merupakan bagian dari komitmen Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKI untuk hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Blimbingsari dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan Kekristenan di Bali,” kata Pontas.
Ketua Sinode GKPB, Bishop Si Bagus Herman Suryadi, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan nasional tersebut. Ia menilai pemilihan Blimbingsari memiliki arti penting karena desa itu merupakan salah satu wilayah pelayanan GKPB.
“Terima kasih kepada Senior GMKI yang telah memilih Bali, khususnya Desa Blimbingsari, sebagai lokasi kegiatan nasional. Kami menyambut baik kehadiran peserta dari seluruh Indonesia,” ujarnya
Sementara itu, Sekretaris Umum GKPB, Pdt. I Ketut Eddy Cahyana, berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pembinaan bagi peserta, tetapi juga membuka ruang dialog dengan masyarakat setempat, khususnya mengenai pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai Kekristenan dan budaya lokal.
Ia juga menyambut baik rencana keterlibatan sejumlah peserta yang berlatar belakang pendeta maupun pelayan gereja untuk melayani ibadah Minggu di gereja-gereja GKPB di Blimbingsari.
“Silakan bersurat kepada Ketua Majelis Wilayah dengan tembusan kepada MPH Sinode GKPB agar pelayanan tersebut dapat dikoordinasikan,” katanya.
Jejak Sejarah Desa Blimbingsari
Pemilihan Blimbingsari juga menghadirkan dimensi sejarah yang kuat. Mengutip laman resmi Pemerintah Desa Blimbingsari, desa ini bermula dari perpindahan sejumlah warga Kristen dari Denpasar pada 1939 pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Sebanyak 30 orang lebih dahulu dikirim untuk merebas kawasan hutan di wilayah utara Melaya. Mereka membuka lahan pertanian sekaligus mempersiapkan permukiman bagi keluarga-keluarga yang kemudian menyusul bermigrasi.
Kawasan tersebut kala itu dipenuhi pohon belimbing yang berbunga tetapi tidak berbuah. Dari situlah nama Blimbingsari kemudian dikenal dan diwariskan hingga sekarang.
Seiring waktu, desa ini berkembang menjadi salah satu contoh pengembangan wisata berbasis masyarakat di Indonesia. Pada Wonderful Indonesia Tourism Award (WITA) 2017, Blimbingsari meraih Juara I kategori Community Based Tourism (CBT). Empat tahun kemudian, desa ini masuk dalam 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, sebagai pengakuan atas tata kelola pariwisata yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Rangkaian NBC III akan diawali di Desa Blimbingsari sebagai lokasi utama kegiatan. Adapun malam penutupan yang dirangkai dengan malam budaya dijadwalkan berlangsung di Kampus Universitas Dhyana Pura (Undhira), Kabupaten Badung(PS)
