AgamaBeritaPendidikan

“Melanjutkan Warisan Ilmu, Menjemput Pertolongan Allah: Tadabbur Surah Ali Imran Ayat 123 di Majlis Al-Mi’raj”

Ustaz. Lukman Hakim LC. M. PD ( pemateri )
dikajian yg sama dg nuansa  yang berbeda  tgl 2 Juni 2026 dimulai dg pengantar kata dari Ustaz H. Supriyadi Semta selaku Ketua dan Pendiri Majlis Al-Mi’raj beserta Ibu Hj.Kumala yang telah istiqamah membina majelis ini selama kurang lebih 17,4 tahun, acara dilanjutkan dengan penyampaian kajian oleh Ustaz H. Lukman Hakim, Lc., M.Pd.

Dalam pengenalannya, beliau menyampaikan rasa hormat dan takzim kepada almarhum KH. Siswanto Sunandar yang selama ini menjadi guru, pembimbing, sekaligus penyampai kajian di majelis yang mulia ini. Dengan penuh kerendahan hati beliau menegaskan bahwa kehadirannya malam ini bukan untuk menggantikan kedudukan almarhum di hati para jamaah, karena kecintaan dan penghormatan kepada para ulama tidaklah dapat digantikan. Beliau hanya melanjutkan amanah ilmu yang telah diwariskan agar mata rantai dakwah dan pembelajaran Islam tetap tersambung.

Ustaz H. Lukman Hakim yang dalam kesehariannya menjabat sebagai Kepala Bagian Pembinaan dan Pengembangan Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Samarinda, serta menjadi pengajar ilmu hadis di Rumah Al-Qur’an Baitul Huffadz, dikenal aktif mengisi berbagai kajian keislaman seperti Hadis Arbain Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bulughul Maram, Sirah Nabawiyah, Aqidah, dan Tauhid.

Pada kesempatan malam ini beliau melanjutkan pembahasan Surah Ali Imran ayat 123. Sebelum memasuki inti pembahasan, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memahami rangkaian ayat dalam Surah Ali Imran, khususnya dari awal hingga ayat-ayat yang sedang dikaji. Menurut beliau, pemahaman yang utuh terhadap ayat-ayat tersebut akan memberikan gambaran yang benar mengenai konsep kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menurut pandangan Islam.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai tata kehidupan sosial, kepemimpinan, persatuan umat, strategi menghadapi tantangan, serta pentingnya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam setiap aspek kehidupan.

Kajian malam itu juga mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sumber pelajaran untuk membangun karakter umat. Peristiwa Badar mengajarkan optimisme, keberanian, kesabaran, disiplin, dan tawakal yang harus terus ditanamkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam membangun peradaban bangsa.
Semoga dengan memahami ayat-ayat Allah secara mendalam, kita tidak hanya menjadi umat yang pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga lahir pribadi-pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.

Exit mobile version