BeritaRepublikViral // PADANG,- Angin sore di kawasan Andalas, Kota Padang, terasa tak biasa membawa ketegangan. Sekitar pukul 16.00 WIB, pintu Sekretariat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat di Kompleks Polamas terbuka, Rabu 14 Oktober 2026. Yang datang bukan tamu biasa — Prof. Dr. Fauzi Bahar, M.Si. Dt. Sati, mantan Wali Kota Padang, melangkah masuk membawa satu pertanyaan yang terus bergema di ruang publik: mengapa namanya dikaitkan dengan lahan yang sedang viral?
⚡ Kabar yang Berlari Lebih Cepat dari Fakta
Kawasan Air Dingin, Lubuk Minturun, belakangan ini digembar-gemborkan — sebuah foto pembukaan lahan yang disebut-sebut sebagai lokasi rencana pembangunan lapangan golf, menyebar di media sosial bagai api di musim kemarau. Nama Fauzi Bahar pun terseret arus. Namun kini, beliau hadir langsung untuk menegaskan: ada yang tak selaras antara fakta dan narasi yang beredar.
“Saya memang memiliki kebun di kawasan Air Dingin, Lubuk Minturun. Tetapi, tanah yang terlihat dalam foto viral itu bukan milik saya,” ujar beliau di hadapan Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Barat, Tommy Adam.
Beliau menegaskan: memiliki lahan di satu wilayah tidak berarti semua tanah di sana adalah miliknya. Layaknya seseorang yang menanam pohon di pekarangan sendiri — tidak lantas membuat seluruh hutan di bukit sebelah menjadi miliknya.
📞 Titik Temu yang Menjadi Titik Silang
Penjelasan WALHI Sumbar menyebutkan: kesimpulan itu diambil berdasarkan penelusuran langsung ke lokasi bersama lembaga Konsentris, keterangan warga sekitar, serta informasi bahwa pihak Konsentris telah melakukan wawancara melalui telepon dengan Fauzi Bahar. Dari percakapan itulah, disebutkan bahwa beliau mengakui lahan tersebut sebagai miliknya.
Namun kalimat itu justru memancing pertanyaan yang lebih besar.
“Saya tidak pernah dihubungi. Saya tidak pernah diwawancarai melalui telepon oleh siapa pun dari pihak Konsentris maupun WALHI. Di mana orang yang mengaku telah mewawancarai saya? Tunjukkan siapa dia, kapan percakapannya, dan apa yang sebenarnya saya ucapkan!” tantang Fauzi Bahar dengan tegas.
Pertanyaan itu menggantung di udara, menanti jawaban. Karena jika sebuah pernyataan dibangun di atas dasar sebuah percakapan — maka yang paling adil adalah memperlihatkan siapa yang berbicara, kapan hal itu terjadi, dan apa isi yang sebenarnya disampaikan. Bukan kesimpulan yang sudah terlanjur terbang ke langit-langit publik, sebelum kakinya menyentuh tanah kebenaran.
⚖️ Jangan Biarkan Fakta Berjalan Pincang
Fauzi Bahar menyampaikan, persoalan kepemilikan tanah bukanlah perkara yang bisa diucapkan sekilas lalu disebarkan ke seantero jagat maya. Apalagi ketika hal itu berkaitan dengan isu lingkungan yang begitu sensitif di hati masyarakat.
“Sebelum sebuah nama disebut, sebelum sebuah kesimpulan dirangkai — seharusnya ada ketukan di pintu, ada sapaan langsung, ada verifikasi yang jujur dan terbuka. Mengapa tidak bertanya kepada saya terlebih dahulu, melainkan langsung menyampaikan kepada publik?” tanyanya.
🌱 Mencari Kebenaran yang Menenangkan Hati
Di hadapan kita kini terbentang dua sisi cerita yang belum bertemu ujungnya:
– WALHI Sumbar menyampaikan informasi berdasarkan penelusuran lapangan dan keterangan yang diterima dari pihak lain;
– Fauzi Bahar membantah pernah diwawancarai dan menegaskan lahan dalam foto viral bukanlah miliknya.
Persimpangan ini menuntut ketelitian, bukan emosi. Diperlukan klarifikasi langsung kepada pihak Konsentris, verifikasi dokumen kepemilikan tanah yang sah, serta pemeriksaan fakta yang teliti dan berimbang. Karena tanah adalah ibu yang memberi kita kehidupan — ia tidak butuh tuduhan, ia butuh penjagaan yang jujur dan adil.
Jurnalis BeritaRepublikViral akan terus mengikuti perkembangan ini, memegang teguh prinsip: kebenaran adalah cahaya yang tak takut diperlihatkan sepenuhnya. Semoga persoalan ini segera menemukan jalannya yang jernih, demi ketenangan masyarakat dan kelestarian alam di Air Dingin, Lubuk Minturun. (Tb Mhd Arief Hendrawan)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.